CATATAN
KULIAH : PROF DR RONNY NITIBASKARA.
KAJIAN
KRITIS TERHADAP THESIS DR GATOT EDY PRAMONO TENTANG KONSEP SUB CULTURE DARI
“LOWER CLASS “ MILLER
OLEH
AKBP
ANDRY WIBOWO
PROGRAM
S3 STIK
A. Pendahuluan
Pada pembukaan kuliahnya Prof Dr Ronny Nitibaskara mengajak
mahasiswa S3 untuk membahas thesis dalam disertasi Dr Gatot Edy Pramono yang
berjudul “Transformasi Organisasi Kemasyarakatan Menjadi Kelompok Kekerasan”
yang beberapa waktu lalu dapat dipertahankan pada siding terbuka pada Fakultas
Kriminolgi FISIP Universitas Indonesia.
Masalah yang disampaikan kepada mahasiswa S3 adalah ,
pandangan DR Gatot Edy Pramono bahwa dalam temuan penelitiannya yang berkaitan
dengan organisasi massa seperti Forum Betawi Rempug (FBR), Pemuda Pancasila
(PP), Forum Keluar Besar Betawi (FORKABI) dan Kembang Latar di Wilayah Jakarta
Selatan bahwa factor excitement (kesenangan) tidak menjadi bagian dari sub
kultur organisasi tersebut sebagaimana disampaikan oleh Miller yang kemudian di
sadur oleh Prof DR Ronny Nitibaskara dalam beberapa tulisannya.
Dalam konsep atau teori tentang sub kultur pada
masyarakat bawah (lower class) terdapat 6(enam) Focal Concerns atau Titik
perhatian sub kultur yang ada pada kelompok masyarakat itu. Miller Menyatakan 6
(enam) focal concern tersebut meliputi :
1. Trouble
: Nilai ini dapat dilihat dari kelompok-kelompok ormas bahwa mereka juga
melakukan tindakan-tindakan yang memancing keributan seperti merusak property
milik kelompok lain, atau menurunkan bendera dan lambing kelompok lain.
Tindakan tersebut dilakukan untuk mendapatkan eksistensi dan merupakan prestasi
jika mereka bisa melakukan hal tersebut;
2. Toughness
: Pada Fenomena kelompok ormas ini juga dapat dilihat nilai toughness walaupun
dalam kelompok ormas lebih diutamakan keberanian bukan kekuatan. Keberanian ini
ditunjukkan dengan partisipasi anggota kelompok ormas untuk ikut membantu jika
terjadi bentrokan ataupun penyerangan ke kelompok lainnya.selain itu juga
terdapat beberapa kelompok ormas yang menyediakan jasa debt collector dan
petugas keamanan dalam mengumpulkan dana untuk kelompok ormas;
3. Smartness
: nilai kecerdikan untuk menipu atau tidak tertipu ini tidak terlalu tampak ,
ditemukan dalam fenomena kelompok ormas. Justru yang tampak adalah kepintaran
atau kemampuan individu. Di dalam ormas , kepintaran dimaksud adalah prestasi
individu dalam melakukan tindakan membela ormasnya, missal menyegel pusat
perbelanjaan, berhasil memimpin aksi penyerangan terhadap kelompok lain;
4. Excitement
: Walaupun tidak menonjol hal ini tetap ditemukan dalam kelompok ormas,
misalnya berkumpul di pos sambil meminum minuman keras atau narkotika dan
tertawa-tawa. Meskipun dilarang oleh pengurus tetapi anggota ormas tidak
mempedulikannya;
5. Fate
: ditunjukkan dari bagaimana sikap anggota ormas terhadap atribut yang dimiliki
kelompoknya. Bendera, Pos, dan gardu yang kesemuanya merupakan symbol kekuatan
ormas tersebut;
6. Autonomy
: ditunjukkan dengan menolak segala macam control atau pembatasan yang berasal
dari luar kelompoknya. Untuk menguatkan eksistensi ormas mereka melakukan
bai’at, membentuk forum komunikasi dan penanaman nilai nilai nasionalisme.
B. Pembahasan
:
Ada beberapa hal yang penulis ingin mengkritisi tentang
temuan DR Gatot Edy Pramono berkaitan dengan sub kultur pada ormas-ormas
tersebut dengan menggunakan 6 (enam) Focal Concern Dari Miller.
Bahwa ormas-ormas yang disebutkan dalam penelitian
tersebut secara factual merupakan ormas-ormas dengan niat yang cenderung
bersifat kriminogenik yaitu bagaimana menguasai sumber-sumber daya yang ada di
lingkungannya dengan justifikasi untuk kepentingan social kelompoknya.
Tumbuh suburnya organisasi massa seperti ini sejalan
tumbuh sumburnya berbagai wilayah yang berkembang sebagai daerah perdagangan
dan industry.Dengan membentuk organisasi massa , maka individu-individu tersebut
merasa lebih kuat dan berani.Maka saya tidak sependapat dengan pandangan DR
Gatot Edy bahwa Touhgness karena keberanian bukan kekuatan, menurut pandangan
saya keberanian mereka karena adanya kekuatan yaitu ikatan kelompok yang mereka
bentuk.jadi ada relevansinya antara keberanian yang tampak dengan kekuatan yang
mewadahi mereka. Tampak ikatan kelompok melalui ormas, keberanian itu saya
pikir relative tidak akan muncul.
Exitement atau kegembiraan merupakan bagian dari jati
diri mereka , baik sebagai individu maupun kelompok. Exitement yang berkorelasi
dengan terpenuhinya hasrat dan tujuan berorganisasi yaitu eksistensi social dan
diperoleh nya imbal balik ekonomi.Exitement tidak dapat dipahami secara sempit
yaitu sekedar meminum minuman keras dan mengkonsumsi narkotika pasca melakukan
kegiatan tertentu. Mempertahankan eksistensi organisasi massa tersebut dapat
dimaknai bahwa menjadi bagian dari organisas massa adalah kegembiraan.sehingga
saya tidak sependapat dengan pandangan Dr Gatot Edy bahwa factor excitement
dalam ormas-ormas tersebut tidak menonjol. Justru karena mereka excited dengan
keberadaan ormas, kegiatan dan dampak nya yang membuat semua orang, aparat
bahkan pemerintah merasa “gentar’ .
Trouble juga menjadi senjata bagi mereka untuk mendapatkan
perhatian dari aparat keamanan, pemerintah maupun target. Setiap trouble yang
dibuat memiliki dampak yang tidak tunggal. Dampak pertama tentunya respons dari
aparat keamanan, semakin besar response dan konflik yang terjadi dengan aparat
keamanan , mereka juga semakin besar. Dampak kedua tentunya perhatian dari
aparat pemerintah, dengan adanya touble-trouble yang di buat yang kemudian
berkembang menjadi isu social dan keamanan maka akes untuk berkomunikasi dengan
tokoh tokoh pemerintahan akan semakin terbuka. Dampak ketiga adalah eksistensi
mereka diketahui oleh kelompok sejenis yang memiliki identitas yang sama dengan
nya. Dengan semakin banyak trouble yang muncul maka akan membuat organisasi
masaa lain segan dan gentar. Sifat trouble ini tidak saya pasif artinya mereka
menunggu jika ada kelompok lain yang mengganggu tetapi juga aktif. Ini berbeda
dengan pandangan DR Gatot Edy yang menggambarkan bahwa organisasi massa ini
akan melakukan perlawanan hanya ketika eksistensi atas kedaulatan teritori
mereka diganggu dengan kelompok lain.
Otonomi,
kelompok-kelompok ini memang memiliki otonomi masing masing. Otonomi ini diatur
secara normative pada AD dan ART mereka. Meskipun demikian juga mereka memiliki
budaya yang berbeda antara satu ormas-dengan ormas lainnya, tetapi otonomi
mereka pun bukan berarti mereka tidak dapat dikontrol oleh kekuatan di luar
mereka. Mereka akan mengkiti apa yang menjadi nilai – nilai luar selama hal
tersebut tidak merugikan mereka, mereka
pun akan tunduk dan patuh kepada aparat kepolisian atau pemerintah pada
kondisi-kondisi tertentu, dan yang paling penting mereka akan mengikuti kepada
Patronnya, bisa itu Pemilik Modal yang memiliki kepentingan dengan organisasi
massa, aparat kepolisian maupun aparat pemerintah selama kekuatan kepolisian
dan pemerintah memiliki alasan yang cukup untuk melakukan intervensi pada
aktifitas mereka yang dilakukan dengan kepemimpinan yang berani dengan kekuatan
yang juga mampu menanganinya.Soliditas dan ketegasan Pemerintah- POLRI-TNI dan
Masyarakat adalah obat mujarab untuk mengendalikan mereka.
C. Kesimpulan
Pada kesimpulan saya organisasi-organisasi massa yang
disampaikan oleh DR Gatot Edy tidak lagi mentransformasi organisasi masa
menjadi organisasi kekerasan jika ada factor pencentusnya. Tetapi dari
pendekatan dan pemahaman saya dengan 6 (enam) focal concern Miller tersebut,
organisasi massa ini sebenarnya adalah organisasi yang menggunakan kekerasan
sebagai alat perjuangan. Transformasi yang ada hanya sifatnya memunculkan hal
yang tersembunyi (hidden violence)
menjadi nyata (actual violence).
Sehingga organisasi massa yang disebutkan dalam
penelitian DR Gatot Edy sebenarnya sdh masuk dalam organisasi criminal, karena
salah satu variabelnya adalah penyebaran rasa takut di masyarakat yang menyebakan
adanya perhatian dari aparat kepolisian
dan pemerintah akan eksistensinya.bukankan dampak dari kejahatan itu bukan
sebatas korban dan kerugian jiwa dan materil, tetapi sesungguhnya adalah rasa
takut terhadap kejahatan dan pelakunya itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar