Selasa, 25 Agustus 2015

Catatan Kuliah Prof Ronny Nitibaskara



CATATAN KULIAH : PROF DR RONNY NITIBASKARA.
KAJIAN KRITIS TERHADAP THESIS DR GATOT EDY PRAMONO TENTANG KONSEP SUB CULTURE DARI “LOWER CLASS “ MILLER
OLEH
AKBP ANDRY WIBOWO
PROGRAM S3 STIK
A.   Pendahuluan
Pada pembukaan kuliahnya Prof Dr Ronny Nitibaskara mengajak mahasiswa S3 untuk membahas thesis dalam disertasi Dr Gatot Edy Pramono yang berjudul “Transformasi Organisasi Kemasyarakatan Menjadi Kelompok Kekerasan” yang beberapa waktu lalu dapat dipertahankan pada siding terbuka pada Fakultas Kriminolgi FISIP Universitas Indonesia.
Masalah yang disampaikan kepada mahasiswa S3 adalah , pandangan DR Gatot Edy Pramono bahwa dalam temuan penelitiannya yang berkaitan dengan organisasi massa seperti Forum Betawi Rempug (FBR), Pemuda Pancasila (PP), Forum Keluar Besar Betawi (FORKABI) dan Kembang Latar di Wilayah Jakarta Selatan bahwa factor excitement (kesenangan) tidak menjadi bagian dari sub kultur organisasi tersebut sebagaimana disampaikan oleh Miller yang kemudian di sadur oleh Prof DR Ronny Nitibaskara dalam beberapa tulisannya.
Dalam konsep atau teori tentang sub kultur pada masyarakat bawah (lower class) terdapat 6(enam) Focal Concerns atau Titik perhatian sub kultur yang ada pada kelompok masyarakat itu. Miller Menyatakan 6 (enam) focal concern tersebut meliputi :
1.    Trouble : Nilai ini dapat dilihat dari kelompok-kelompok ormas bahwa mereka juga melakukan tindakan-tindakan yang memancing keributan seperti merusak property milik kelompok lain, atau menurunkan bendera dan lambing kelompok lain. Tindakan tersebut dilakukan untuk mendapatkan eksistensi dan merupakan prestasi jika mereka bisa melakukan hal tersebut;
2.    Toughness : Pada Fenomena kelompok ormas ini juga dapat dilihat nilai toughness walaupun dalam kelompok ormas lebih diutamakan keberanian bukan kekuatan. Keberanian ini ditunjukkan dengan partisipasi anggota kelompok ormas untuk ikut membantu jika terjadi bentrokan ataupun penyerangan ke kelompok lainnya.selain itu juga terdapat beberapa kelompok ormas yang menyediakan jasa debt collector dan petugas keamanan dalam mengumpulkan dana untuk kelompok ormas;
3.    Smartness : nilai kecerdikan untuk menipu atau tidak tertipu ini tidak terlalu tampak , ditemukan dalam fenomena kelompok ormas. Justru yang tampak adalah kepintaran atau kemampuan individu. Di dalam ormas , kepintaran dimaksud adalah prestasi individu dalam melakukan tindakan membela ormasnya, missal menyegel pusat perbelanjaan, berhasil memimpin aksi penyerangan terhadap kelompok lain;
4.    Excitement : Walaupun tidak menonjol hal ini tetap ditemukan dalam kelompok ormas, misalnya berkumpul di pos sambil meminum minuman keras atau narkotika dan tertawa-tawa. Meskipun dilarang oleh pengurus tetapi anggota ormas tidak mempedulikannya;
5.    Fate : ditunjukkan dari bagaimana sikap anggota ormas terhadap atribut yang dimiliki kelompoknya. Bendera, Pos, dan gardu yang kesemuanya merupakan symbol kekuatan ormas tersebut;
6.    Autonomy : ditunjukkan dengan menolak segala macam control atau pembatasan yang berasal dari luar kelompoknya. Untuk menguatkan eksistensi ormas mereka melakukan bai’at, membentuk forum komunikasi dan penanaman nilai nilai nasionalisme.
B.   Pembahasan :
Ada beberapa hal yang penulis ingin mengkritisi tentang temuan DR Gatot Edy Pramono berkaitan dengan sub kultur pada ormas-ormas tersebut dengan menggunakan 6 (enam) Focal Concern Dari Miller.
Bahwa ormas-ormas yang disebutkan dalam penelitian tersebut secara factual merupakan ormas-ormas dengan niat yang cenderung bersifat kriminogenik yaitu bagaimana menguasai sumber-sumber daya yang ada di lingkungannya dengan justifikasi untuk kepentingan social kelompoknya.
Tumbuh suburnya organisasi massa seperti ini sejalan tumbuh sumburnya berbagai wilayah yang berkembang sebagai daerah perdagangan dan industry.Dengan membentuk organisasi massa , maka individu-individu tersebut merasa lebih kuat dan berani.Maka saya tidak sependapat dengan pandangan DR Gatot Edy bahwa Touhgness karena keberanian bukan kekuatan, menurut pandangan saya keberanian mereka karena adanya kekuatan yaitu ikatan kelompok yang mereka bentuk.jadi ada relevansinya antara keberanian yang tampak dengan kekuatan yang mewadahi mereka. Tampak ikatan kelompok melalui ormas, keberanian itu saya pikir relative tidak akan muncul.
Exitement atau kegembiraan merupakan bagian dari jati diri mereka , baik sebagai individu maupun kelompok. Exitement yang berkorelasi dengan terpenuhinya hasrat dan tujuan berorganisasi yaitu eksistensi social dan diperoleh nya imbal balik ekonomi.Exitement tidak dapat dipahami secara sempit yaitu sekedar meminum minuman keras dan mengkonsumsi narkotika pasca melakukan kegiatan tertentu. Mempertahankan eksistensi organisasi massa tersebut dapat dimaknai bahwa menjadi bagian dari organisas massa adalah kegembiraan.sehingga saya tidak sependapat dengan pandangan Dr Gatot Edy bahwa factor excitement dalam ormas-ormas tersebut tidak menonjol. Justru karena mereka excited dengan keberadaan ormas, kegiatan dan dampak nya yang membuat semua orang, aparat bahkan pemerintah merasa “gentar’ . 
Trouble juga menjadi senjata bagi mereka untuk mendapatkan perhatian dari aparat keamanan, pemerintah maupun target. Setiap trouble yang dibuat memiliki dampak yang tidak tunggal. Dampak pertama tentunya respons dari aparat keamanan, semakin besar response dan konflik yang terjadi dengan aparat keamanan , mereka juga semakin besar. Dampak kedua tentunya perhatian dari aparat pemerintah, dengan adanya touble-trouble yang di buat yang kemudian berkembang menjadi isu social dan keamanan maka akes untuk berkomunikasi dengan tokoh tokoh pemerintahan akan semakin terbuka. Dampak ketiga adalah eksistensi mereka diketahui oleh kelompok sejenis yang memiliki identitas yang sama dengan nya. Dengan semakin banyak trouble yang muncul maka akan membuat organisasi masaa lain segan dan gentar. Sifat trouble ini tidak saya pasif artinya mereka menunggu jika ada kelompok lain yang mengganggu tetapi juga aktif. Ini berbeda dengan pandangan DR Gatot Edy yang menggambarkan bahwa organisasi massa ini akan melakukan perlawanan hanya ketika eksistensi atas kedaulatan teritori mereka diganggu dengan kelompok lain.
 Otonomi, kelompok-kelompok ini memang memiliki otonomi masing masing. Otonomi ini diatur secara normative pada AD dan ART mereka. Meskipun demikian juga mereka memiliki budaya yang berbeda antara satu ormas-dengan ormas lainnya, tetapi otonomi mereka pun bukan berarti mereka tidak dapat dikontrol oleh kekuatan di luar mereka. Mereka akan mengkiti apa yang menjadi nilai – nilai luar selama hal tersebut tidak merugikan mereka,  mereka pun akan tunduk dan patuh kepada aparat kepolisian atau pemerintah pada kondisi-kondisi tertentu, dan yang paling penting mereka akan mengikuti kepada Patronnya, bisa itu Pemilik Modal yang memiliki kepentingan dengan organisasi massa, aparat kepolisian maupun aparat pemerintah selama kekuatan kepolisian dan pemerintah memiliki alasan yang cukup untuk melakukan intervensi pada aktifitas mereka yang dilakukan dengan kepemimpinan yang berani dengan kekuatan yang juga mampu menanganinya.Soliditas dan ketegasan Pemerintah- POLRI-TNI dan Masyarakat adalah obat mujarab untuk mengendalikan mereka. 










C.   Kesimpulan
Pada kesimpulan saya organisasi-organisasi massa yang disampaikan oleh DR Gatot Edy tidak lagi mentransformasi organisasi masa menjadi organisasi kekerasan jika ada factor pencentusnya. Tetapi dari pendekatan dan pemahaman saya dengan 6 (enam) focal concern Miller tersebut, organisasi massa ini sebenarnya adalah organisasi yang menggunakan kekerasan sebagai alat perjuangan. Transformasi yang ada hanya sifatnya memunculkan hal yang tersembunyi (hidden violence) menjadi  nyata (actual violence).
Sehingga organisasi massa yang disebutkan dalam penelitian DR Gatot Edy sebenarnya sdh masuk dalam organisasi criminal, karena salah satu variabelnya adalah penyebaran rasa takut di masyarakat yang menyebakan adanya perhatian dari  aparat kepolisian dan pemerintah akan eksistensinya.bukankan dampak dari kejahatan itu bukan sebatas korban dan kerugian jiwa dan materil, tetapi sesungguhnya adalah rasa takut terhadap kejahatan dan pelakunya itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar