Kamis, 20 Agustus 2015

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis oleh ANDRY WIBOWO, SIK , MH, MSI



 Filsafat Sebagai Ilmu Kritis oleh ANDRY WIBOWO, SIK , MH, MSI 

MAHASISWA S3 ILMU KEPOLISIAN SEKOLAH TINGGI ILMU KEPOLISIAN
“ Filsafat sering difitnah sebagai sekularistik, ateis dan anarkis karena suka menyobek selubung selubung ideologis pelbagai kepentingan duniawi , termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim. Ia tidak sopan . Ia bagaikan anjing yang menggongong , mengganggu dan menggigit. Filsafat harus demikiankarena ia secara hirarki adalah ilmu kritis. Memperlihatkan sifat kritis filsafat adalah maksud karangan ini”.
1.       Filosof dan minat politik
Pada bagian ini pengarang tulisan ini ingin memberikan penggambaran tentang fenomena filosof-filosof terkemuka terhadap dunia politik.Dibuka dengan contoh filosof Herakelitos dengan pandangannya bahwa “perang adalah bapak dari segala galanya". Kemudian dengan Andre Glucksman yang mendukung penempatan roket Pershing II di Republik Federal Jerma.
Selanjutnya secara deskripsi penulis menyebutkan satu persatu filosof filosof terkemuka eropa dan dunia yang berminat terhadap politik .
Platon yang mengembangkan ide-ide yang berhubungan dengan harapan terbentuknya tatanan politik yang “adil dan selaras” di Athena yang kemudian pandangan-pandangannya ditulis dalam “Politeia” Platon. Aristoteles yang memperkenalkan etika Aristoteles yang dituangkan dalam  buku klasik filsafat dan sosiologi politik “Etika Nikomacheia dan Politik”. Dua pandangan yang kemudian ditulis dalam buku tersebut merupakan dua paradigm pendekatan politis yang paling kuat dan digunakan sebagai dasar teori politik di banyak universitas di jerman.dalam konteks ini Aristoles mengkritik pandangan bahwa untuk menghasilkan filsafat politik yang bermafaat bagai politik harus melalui jalan keterlibatan pada konteks praksis”sebagaimana menjadi pandangan dari cicero,Seneca,marcus aurelius yang merupakan kelompok filosof “Stoa” yang berperan dalam politik praktis.Meskipun realitanya anak didiknya sendiri yaitu alexander agung berhasil mendirikan suatu kerajaan besar yang pernah ada di muka bumi. Pandangan aristoteles ini melawan pandangan-pandangan filosof yang berbaur dalam politik praktis.
Selanjutnya penulis menggolongkan filosof di bidang filsafat politik dan filosof di bidang yang relevan dengan Politik yang diambil dari buku 27 nama yang disebut dalam “Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern karya harry hamersma . 8 (delapan) filosof yang membindangi filsafat politik diantaranya Immanuel kant, Locke, Rouesseau, Fichte, Hegel, Comte, Marx dan Spenser. Sedangkan sisanya adalah Filosof yang relevan dengan filsafat politik.kemudian ada nama-nama seperti Spinoza, nietzshe, Satre dll yang relevan dengan filsafat politik. Dalam penulisan ini penulis mengkritisasi tulisan harry hamersma yang tidak menyebutkan filosof filosof besar yang terkenal dalam tulisan seperti Hobbes maupun John Stuart Mill demikian pula dengan para filosof beraliran marxis seperti habermas dkk maupun filosof aliran rasionalis kritis Karl popper dan hans albert maupun aliran aliran modern seperti Neokantinisme, Positivisme logis dan Eksistensialisme.
Disini juga ingin menggambarkan bahwa filsafat ingin mengkritisi dirinya sendiri yaitu dengan mengkritisi pandangan-pandangan para filosof yang berorientasi pada keterlibatan politik praktis dalam mendapatkan satu kemanfaatan yang lebih dari ilmu filsafat.





2.       Apa Kerja Filsafat
Dalam bagian ini penulis coba ingin menjelaskan apa kerja filsafat dengan Gambaran awal pada bagian pertama tulisan ini ingin menyampaikan pesan bahwa filsafat bergulat dengan permasalahan – permasalahan dasar manusia membawa pertanyaan tentang tatanan masyarakat sebagai keseluruhan , itulah bidang politik dan filsafat biasanya muncul sebagai kritik.
Tetapi penulis ingin kepada kita untuk mempersempit kerja filsafat pada hal tersebut artinya filsafat selalu tertarik pada politik adalah “ya” tetapi tidak berarti filsafat hanya terbatas padanya justru sebaliknya filsafat harus selalu bersifat kritis terhadap apa saja yang ditangkapnya.Selanjutnya memunculkan pertanyaan apa kerja filsafat?.
Bertolak dari kondisi de facto bahwa filsafat dilakukan dalam masyarakat dimana secara hakekat filsafat membantu masyarakat dalam memecahkan masalah masalah kehidupan.
Sebagaimana ilmu pengetahuan lain yang membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Mengingat bahwa manusia berbeda dengan binatang (yang menyerahkan pengemudian kelakuannya pada perangkat institualnya), sebaliknya manusia membutuhkan orientasi yang sadar untuk mengetahui lingkungannya.Ilmu ilmu coba mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya.
Dalam konteks ini penulis mencoba menjawab apa kerja filsafat dengan membedakannya dengan ilmu ilmu pengetahuan lainnya.
Ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu fisiologi, sosiologi atau ekonomi secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti secara optimal ilmu ilmu tersebut mengkhususkan diri pada metode –metode mereka, dan justru karena itu ilmu ilmu khusus tidak memiliki sarana teoritis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di luar perspektif pendekatan khusus masing-masing.atau dengan kata lain ilmu-ilmu khusus tidak menjawab pertanyaan manusia secara keseluruhan seperti apa arti tujuan hidup saya?apa yang menjadi tanggung jawab utama saya sebagai manusia?bagaimana saya harus hidup dan menjadi baik sebagai manusia?apa arti implikasi martabat saya dan martabat orang lain sebagai manusia?.Karena pertanyaan ini memerlukan penanganan yang rasional dan bertanggung jawab, maka disinilah ilmu filsafat hadir dan bekerja .dalam konteks ini kembali lagi menunjukan filsafat sebagai ilmu kritis ingin diverivikasi yaitu dengan mengkritisi ilmu pengetahuan lain yang pada hakekatnya terbatas (tujuan dan bidang tertentu) dan tidakmenjawab manusia secara keseluruhan.
3.       Filsafat mencari jawaban
Di awal pada bagian ini mengatakan bahwa usaha filsafat memiliki dua arah yaitu filsafat harus mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai dan filsafat harus mencari jawaban yang benar.hal ini juga merupakan kritik terhadap sejarah filsafat itu sendiri yang cenderung dipandang sebagai ilmu yang terbatas kepada menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang betul, seakan akan filsafat tidak pada konteks untuk memberikan jawaban.
Untuk itulah kemudian dengan perkembangan trend modis saat ini, filsafat dituntut untuk dapar memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaan itu sendiri. Jawaban jawaban yang diinginkan oleh filsafat bukanlah jawaban jawaban yang bersifat spontan tetapi jawaban jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat dimengerti secara intersubjektif.
4.       Filsafat Sebagai Ilmu Kritik
Dari gambaran dan penjelasan bagian bagian diatas dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu kritis termasuk kritis terhadap dirinya sendiri (disitulah hakekat ilmu filsafat).filsafat terus mencari jawaban jawaban tetapi sejati jawaban – jawaban itu tidak pernah abadi.karena filsafat tidak pernah selesai dan tak pernah sampai pada akhir masalah.Karena masalah filsafat adalah manusia, dan manusia adalah manusia yang selalu berkembang secara dinamis. Sedangkan metode dalam filsafat menjadi isu yang tidak penting, pemutlakan terhadap suatu metode merupakan kematian bagi filsafat.termasuk filsafat tidak pernah mempersoalkan apakah ia menjadi ilmu sekunder (metascience) sebagaimana menjadi metode filsafat era anglosaxon atau menjadi arena kebijaksanaan dalam era yunani.
Filsafat adalah seni kritis yang selalu bertanya dan bertanya selalu mencari kebenaran atas jawaban jawaban yang rasional ydan dapat dipertanggungjawabkan. Sejalan hal tersebut hagel sebagai pengusung paradigama dialektikal filsafat juga menyatakan bahwa setiap kebenarana akan menjadi benar dalam thesis-anti thesis dan anti thesisnya thesis, secara terus menerus sekaligus membangun gedung teoritis.
5.       Filsafat sebagai kritik ideology
Sifat kritik filsafat menjadi sasaran kritik ideology par excellence. Ideology yang dimaksud oleh penulis disini adalah makna hidup dan atau nilai-nilai yang ditarik kesimpulan kesimpulan mutlak bagaimanan manusia harus hidup dan bertindak dengan ciri ciri tuntutan tuntutan mutlak yang tidak boleh dipersoalkan.
Pada konteks inilah kemudian faham ideology ini bertoalk belakang faham filsafat yang selalu bertanya dan menuntut pertanggung jawaban yang berbading terbalik dengan faham ideology yang menabukan pertanyaan atas nilai yang telah dainggap mutlak.untuk itulah kemudian filsafat dianggap atheis, sekularistik dan anarkhis. Filsafat diibaratkan bagaiakan anjing yang selalu menggonggong yang tidak membiarkan system-sistem normative menjadi tempat peristirahatan bagi kepentingan kepentingan ideologis.dimana objek kritik pertama adalah filsafat sendiri agar tidak terjebak pada  dalam bahaya ideologis.
6.       Filsafat Politik
Filsafat Politik adalah filsafat yang mengenai masyarakat sebagai keseluruhan.Filsafat politik berurusan dengan masalah legitimasi,legitimasi dalam arti ethis terhadap dua lembaga dimensi yaitu manusia dan hukum sebagai lembaga normative penataan masyarakat serta lembaga politik yaitu Negara sebagai lembaga penataan masyarakat yang efektif.
Dalam konteks ini timbul berbagai pertanyaan yang bersifat filsafati diantaranya untuk apa kekuasaan dapat dipakai?maupun legitimasi subjek kekuasaan ; fihak mana dan berdasarkan apa , boleh memegang kekuasaan? Apa fungsi filsafat politik semacam itu?
Penulis kemudian bertanya secara tendensius apakah filsafat politik hanya berbicara moral dan tidak terlibat pada hal hal yang lebih jauh dalam urusan kemasyarakatan.karena tanpa pergumulan yang bersifat praksis apa artinya filsafat meskipun hal ini merupakan penghianatan terhadap akal budi.
Karena kebenaran kognitif maupun normative akan menimbulkan pertanyaan dimana kedudukannya dalam kehidupan masyarakat yang mendorong kita pada opportunis intelektual, pelayanan akal budi instrumental, kita mempergantungkan maklumat kebenaran pada pertimbangan opportunistic, manfaat, pengaruh, situasi dan sebagainya.
Hal ini mendorong filsafat politik pada hakekatnya yaitu untuk terus mendorong claim atas hak untuk menata masyarakat dipertanggungjawabkan untuk merobek tabir kepolosan ideologis.claim-claim legitimasi segala macam kekuatan entah bersifat kekuasaan langsung, entah tersembunyi dibelakang kebenaran normative.dengan kata lain dengan adanya filsafat politikberarti adanya suatu kenyatan dalam kehidupan masyrakat yang tidak membiarkan segala macam claim wewenang dan kekuasaan menjadi mapan begitu saja.dengan demikian filsafat politik adalah ragi bagi adona masyarakat yang medesak terus menerus agar segala usaha pembangunan dihadapkan pada tuntutan legitimasi normative dan demokratis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar