Filsafat Sebagai
Ilmu Kritis oleh ANDRY WIBOWO, SIK , MH, MSI
MAHASISWA S3 ILMU KEPOLISIAN SEKOLAH TINGGI ILMU KEPOLISIAN
“ Filsafat sering difitnah sebagai sekularistik, ateis dan
anarkis karena suka menyobek selubung selubung ideologis pelbagai kepentingan
duniawi , termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim. Ia tidak sopan .
Ia bagaikan anjing yang menggongong , mengganggu dan menggigit. Filsafat harus
demikiankarena ia secara hirarki adalah ilmu kritis. Memperlihatkan sifat
kritis filsafat adalah maksud karangan ini”.
1. Filosof
dan minat politik
Pada bagian ini
pengarang tulisan ini ingin memberikan penggambaran tentang fenomena
filosof-filosof terkemuka terhadap dunia politik.Dibuka dengan contoh filosof
Herakelitos dengan pandangannya bahwa “perang adalah bapak dari segala
galanya". Kemudian dengan Andre Glucksman yang mendukung penempatan roket
Pershing II di Republik Federal Jerma.
Selanjutnya
secara deskripsi penulis menyebutkan satu persatu filosof filosof terkemuka
eropa dan dunia yang berminat terhadap politik .
Platon yang
mengembangkan ide-ide yang berhubungan dengan harapan terbentuknya tatanan
politik yang “adil dan selaras” di Athena yang kemudian pandangan-pandangannya
ditulis dalam “Politeia” Platon. Aristoteles yang memperkenalkan etika
Aristoteles yang dituangkan dalam buku
klasik filsafat dan sosiologi politik “Etika Nikomacheia dan Politik”. Dua
pandangan yang kemudian ditulis dalam buku tersebut merupakan dua paradigm
pendekatan politis yang paling kuat dan digunakan sebagai dasar teori politik
di banyak universitas di jerman.dalam konteks ini Aristoles mengkritik
pandangan bahwa untuk menghasilkan filsafat politik yang bermafaat bagai
politik harus melalui jalan keterlibatan pada konteks praksis”sebagaimana
menjadi pandangan dari cicero,Seneca,marcus aurelius yang merupakan kelompok
filosof “Stoa” yang berperan dalam politik praktis.Meskipun realitanya anak didiknya
sendiri yaitu alexander agung berhasil mendirikan suatu kerajaan besar yang
pernah ada di muka bumi. Pandangan aristoteles ini melawan pandangan-pandangan
filosof yang berbaur dalam politik praktis.
Selanjutnya
penulis menggolongkan filosof di bidang filsafat politik dan filosof di bidang
yang relevan dengan Politik yang diambil dari buku 27 nama yang disebut dalam
“Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern karya harry hamersma . 8 (delapan) filosof
yang membindangi filsafat politik diantaranya Immanuel kant, Locke, Rouesseau,
Fichte, Hegel, Comte, Marx dan Spenser. Sedangkan sisanya adalah Filosof yang
relevan dengan filsafat politik.kemudian ada nama-nama seperti Spinoza,
nietzshe, Satre dll yang relevan dengan filsafat politik. Dalam penulisan ini
penulis mengkritisasi tulisan harry hamersma yang tidak menyebutkan filosof
filosof besar yang terkenal dalam tulisan seperti Hobbes maupun John Stuart
Mill demikian pula dengan para filosof beraliran marxis seperti habermas dkk
maupun filosof aliran rasionalis kritis Karl popper dan hans albert maupun
aliran aliran modern seperti Neokantinisme, Positivisme logis dan
Eksistensialisme.
Disini juga
ingin menggambarkan bahwa filsafat ingin mengkritisi dirinya sendiri yaitu
dengan mengkritisi pandangan-pandangan para filosof yang berorientasi pada
keterlibatan politik praktis dalam mendapatkan satu kemanfaatan yang lebih dari
ilmu filsafat.
2. Apa
Kerja Filsafat
Dalam bagian ini
penulis coba ingin menjelaskan apa kerja filsafat dengan Gambaran awal pada
bagian pertama tulisan ini ingin menyampaikan pesan bahwa filsafat bergulat
dengan permasalahan – permasalahan dasar manusia membawa pertanyaan tentang
tatanan masyarakat sebagai keseluruhan , itulah bidang politik dan filsafat
biasanya muncul sebagai kritik.
Tetapi penulis
ingin kepada kita untuk mempersempit kerja filsafat pada hal tersebut artinya
filsafat selalu tertarik pada politik adalah “ya” tetapi tidak berarti filsafat
hanya terbatas padanya justru sebaliknya filsafat harus selalu bersifat kritis
terhadap apa saja yang ditangkapnya.Selanjutnya memunculkan pertanyaan apa
kerja filsafat?.
Bertolak dari
kondisi de facto bahwa filsafat dilakukan dalam masyarakat dimana secara
hakekat filsafat membantu masyarakat dalam memecahkan masalah masalah
kehidupan.
Sebagaimana ilmu
pengetahuan lain yang membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia.
Mengingat bahwa manusia berbeda dengan binatang (yang menyerahkan pengemudian
kelakuannya pada perangkat institualnya), sebaliknya manusia membutuhkan
orientasi yang sadar untuk mengetahui lingkungannya.Ilmu ilmu coba
mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses
pencariannya.
Dalam konteks
ini penulis mencoba menjawab apa kerja filsafat dengan membedakannya dengan
ilmu ilmu pengetahuan lainnya.
Ilmu pasti, ilmu
fisika, ilmu fisiologi, sosiologi atau ekonomi secara hakiki terbatas sifatnya.
Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu membatasi diri
pada tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti secara optimal ilmu ilmu tersebut
mengkhususkan diri pada metode –metode mereka, dan justru karena itu ilmu ilmu
khusus tidak memiliki sarana teoritis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
di luar perspektif pendekatan khusus masing-masing.atau dengan kata lain
ilmu-ilmu khusus tidak menjawab pertanyaan manusia secara keseluruhan seperti
apa arti tujuan hidup saya?apa yang menjadi tanggung jawab utama saya sebagai
manusia?bagaimana saya harus hidup dan menjadi baik sebagai manusia?apa arti
implikasi martabat saya dan martabat orang lain sebagai manusia?.Karena
pertanyaan ini memerlukan penanganan yang rasional dan bertanggung jawab, maka
disinilah ilmu filsafat hadir dan bekerja .dalam konteks ini kembali lagi
menunjukan filsafat sebagai ilmu kritis ingin diverivikasi yaitu dengan mengkritisi
ilmu pengetahuan lain yang pada hakekatnya terbatas (tujuan dan bidang
tertentu) dan tidakmenjawab manusia secara keseluruhan.
3. Filsafat
mencari jawaban
Di awal pada
bagian ini mengatakan bahwa usaha filsafat memiliki dua arah yaitu filsafat
harus mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai dan filsafat harus mencari
jawaban yang benar.hal ini juga merupakan kritik terhadap sejarah filsafat itu
sendiri yang cenderung dipandang sebagai ilmu yang terbatas kepada menanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang betul, seakan akan filsafat tidak pada konteks untuk
memberikan jawaban.
Untuk itulah
kemudian dengan perkembangan trend modis saat ini, filsafat dituntut untuk
dapar memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaan itu sendiri. Jawaban
jawaban yang diinginkan oleh filsafat bukanlah jawaban jawaban yang bersifat
spontan tetapi jawaban jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional
dan dapat dimengerti secara intersubjektif.
4. Filsafat
Sebagai Ilmu Kritik
Dari gambaran
dan penjelasan bagian bagian diatas dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu
kritis termasuk kritis terhadap dirinya sendiri (disitulah hakekat ilmu
filsafat).filsafat terus mencari jawaban jawaban tetapi sejati jawaban –
jawaban itu tidak pernah abadi.karena filsafat tidak pernah selesai dan tak
pernah sampai pada akhir masalah.Karena masalah filsafat adalah manusia, dan
manusia adalah manusia yang selalu berkembang secara dinamis. Sedangkan metode
dalam filsafat menjadi isu yang tidak penting, pemutlakan terhadap suatu metode
merupakan kematian bagi filsafat.termasuk filsafat tidak pernah mempersoalkan
apakah ia menjadi ilmu sekunder (metascience) sebagaimana menjadi metode
filsafat era anglosaxon atau menjadi arena kebijaksanaan dalam era yunani.
Filsafat adalah
seni kritis yang selalu bertanya dan bertanya selalu mencari kebenaran atas
jawaban jawaban yang rasional ydan dapat dipertanggungjawabkan. Sejalan hal
tersebut hagel sebagai pengusung paradigama dialektikal filsafat juga
menyatakan bahwa setiap kebenarana akan menjadi benar dalam thesis-anti thesis
dan anti thesisnya thesis, secara terus menerus sekaligus membangun gedung
teoritis.
5. Filsafat
sebagai kritik ideology
Sifat kritik
filsafat menjadi sasaran kritik ideology par excellence. Ideology yang dimaksud
oleh penulis disini adalah makna hidup dan atau nilai-nilai yang ditarik
kesimpulan kesimpulan mutlak bagaimanan manusia harus hidup dan bertindak
dengan ciri ciri tuntutan tuntutan mutlak yang tidak boleh dipersoalkan.
Pada konteks
inilah kemudian faham ideology ini bertoalk belakang faham filsafat yang selalu
bertanya dan menuntut pertanggung jawaban yang berbading terbalik dengan faham
ideology yang menabukan pertanyaan atas nilai yang telah dainggap mutlak.untuk
itulah kemudian filsafat dianggap atheis, sekularistik dan anarkhis. Filsafat
diibaratkan bagaiakan anjing yang selalu menggonggong yang tidak membiarkan
system-sistem normative menjadi tempat peristirahatan bagi kepentingan
kepentingan ideologis.dimana objek kritik pertama adalah filsafat sendiri agar
tidak terjebak pada dalam bahaya
ideologis.
6. Filsafat
Politik
Filsafat Politik
adalah filsafat yang mengenai masyarakat sebagai keseluruhan.Filsafat politik
berurusan dengan masalah legitimasi,legitimasi dalam arti ethis terhadap dua
lembaga dimensi yaitu manusia dan hukum sebagai lembaga normative penataan
masyarakat serta lembaga politik yaitu Negara sebagai lembaga penataan
masyarakat yang efektif.
Dalam konteks
ini timbul berbagai pertanyaan yang bersifat filsafati diantaranya untuk apa
kekuasaan dapat dipakai?maupun legitimasi subjek kekuasaan ; fihak mana dan
berdasarkan apa , boleh memegang kekuasaan? Apa fungsi filsafat politik semacam
itu?
Penulis kemudian
bertanya secara tendensius apakah filsafat politik hanya berbicara moral dan
tidak terlibat pada hal hal yang lebih jauh dalam urusan kemasyarakatan.karena
tanpa pergumulan yang bersifat praksis apa artinya filsafat meskipun hal ini
merupakan penghianatan terhadap akal budi.
Karena kebenaran
kognitif maupun normative akan menimbulkan pertanyaan dimana kedudukannya dalam
kehidupan masyarakat yang mendorong kita pada opportunis intelektual, pelayanan
akal budi instrumental, kita mempergantungkan maklumat kebenaran pada pertimbangan
opportunistic, manfaat, pengaruh, situasi dan sebagainya.
Hal ini mendorong
filsafat politik pada hakekatnya yaitu untuk terus mendorong claim atas hak
untuk menata masyarakat dipertanggungjawabkan untuk merobek tabir kepolosan
ideologis.claim-claim legitimasi segala macam kekuatan entah bersifat kekuasaan
langsung, entah tersembunyi dibelakang kebenaran normative.dengan kata lain
dengan adanya filsafat politikberarti adanya suatu kenyatan dalam kehidupan
masyrakat yang tidak membiarkan segala macam claim wewenang dan kekuasaan
menjadi mapan begitu saja.dengan demikian filsafat politik adalah ragi bagi
adona masyarakat yang medesak terus menerus agar segala usaha pembangunan
dihadapkan pada tuntutan legitimasi normative dan demokratis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar