Kamis, 20 Agustus 2015

TEORI TENTANG MASSA (CROWD) OLEH GUSTAVE LE BON



TEORI TENTANG MASSA (CROWD)  OLEH GUSTAVE LE BON
OLEH
ANDRY WIBOWO
MAHASISWA PROGRAM S3 STIK
A.   PENDAHULUAN
Pemahaman crowds dalam terminology indonesia adalah kerumunan orang tetapi kerumunan orang tersebut sering secara popular disebut dengan massa contoh amuk massa dan bukan amuk kerumunan, kerusuhan massa dan bukan kerusuhan kerumunan.
Selain dari pada itu “crowds” dan “mass” dalam bahasa Inggris jika dipadankan dengan perilaku kolektiv di defenisikan dan dimaknai secara berbeda dimana crowds didefinisikan “ a temporary gathering of people who share a common focus of attention and who influences one another “ jika diartikan dalam bahasa Indonesia “crowds” suatu kumpulan orang yang bersifat sementara yang mana memiliki focus perhatian yang sama dan saling mempengaruhi diantara mereka Blummer mengidentifikasikan “crowds” dalam 4 ( empat) Type :
1.    A Casual Crowd “ kerumunan biasa” missal orang-orang yang sedang berada di pinggir pantai
2.    A conventional Crowd “ kerumunanan konvensional” missal murid-murid yang ada di dalam kelas;
3.    An expressive Crowd “ kerumunan yang eksprisive” missal orang-orang yang ada di dalam kebaktian gereja;
4.    An Acting Crowd “ Kerumunan Bertingkah laku “ missal orang-orang yang sedang berdemonstrasi



Sedangkan “mass” dalam bahasa Inggris didefinisikan dan dimaknai “ collective behavior among people dispersed over a wide geographical area “ atau suatu perilaku kolektiv pada masyarakat yang mendiami area geography yang luas sebagai contoh rumor, gossip, opini public, propaganda, panic, hysteria massa. [1] 
Dalam penulisan makalah ini yang dimaksud dengan “crowd” adalah massa meskipun jika kita mengartikannya dengan perspective perilaku kolektif dalam terminology bahasa Inggris diatas maka secara semantic maka kata “crowds” dan “mass” memiliki arti dalam bahasa Indonesia yang berbeda.
Penelitian tentang perilaku massa telah mendapatkan tempatnya dalam ilmu social ( psycologi social, sosiologi, sejarah )  sejak gustave le bon ( the founding father of modern crowd psycology) menemukan teori tentang crowd dalam “the crowd of mind” pada tahun 1890an.
Sebelum masuk pada pembahasan secara khusus tentang sejarah , kontek dan konten dari teori le bon , disampaikan   Beberapa pandangan ilmuwan social tentang crowd :[2]
Anthoni gidens “ massa adalah sekumpulan orang dalam jumlah relative besar yang berinteraksi satu dengan lainnya di tempat umum”
Keller dan Calhoun “ massa  adalah sekumpulan orang yang berkumpul di sekitar seseorang atau suatu kejadian, sadar akan kehadiran orang lain dan dipengaruhi orang lain”.
Kimball Young “ sekumpulan orang yang berjumlah tertentu yang berkumpul di “centre point” karena adanya daya tarik tertentu”;
Contrills “ massa adalah sekeompok individu yang membaur menjadi satu dalam waktu tertentu didasarkan pada nilai-nilai yang sama dan melampiaskan emosi yang sama”;
Anderson dan Parker “ massa adalah kerumunan orang yang dibentuk secara kolektif di suatu tempat tertentu dengan tujuan tertentu karena adanya rangsangan sehingga melakukan suatu tindakan sama sebagai bentuk reaksi “
Dari beberapa definisi tersebut maka penulis seidaknya memahami massa berdasarkan karakteristik yang disampaikan oleh ilmuwan social diatas sebagai berikut :
1.    Sekumpulan orang dalam jumlah tertentu ;
2.    Berkumpul di tempat tertentu dalam waktu yang sama
3.    Adanya sesuatu yang menarik perhatian sebagai rangsangan ( biasa orang atau peristiwa)
4.    Melakukan tindakan tertentu secara bersama;

B.   PEMBAHASAN
Le Bon Membangun Teorinya tentang “crowds” di Perancis pada tahun 1890an di saat di daratan eropa banyak terjadi guncangan social dan banyaknya terjadi demonstrasi maupun pemogokan.
Le Bon Memandang Crowds… By The Mere Fact That He Forms Part Of an Organized Crowds , a Man Descends  several rungs in the ladder of civilization, isolated, he may be calculated individual, in a crowd he is barbarian , that is , a creature acting by instinct…”…. Le Bon Though that crowds were influenced by a process called “contagion” . Contagion refers to the process whereby “irrational” and violent feelings can spread through the member of a crowd”…
Dari banyak fakta bahwa Le Bon memahami massa merupakan bagian dari dinamika perubahan peradaban pada saat itu, Ia “Le Bon” memandang bahwa di dalam masa individu dapat bertindak secara barbar . bahwa tindakan massa seperti ini dipengaruhi oleh suatu proses yang disebut dengan contagion” dimana irrasional “ dan kekerasan dapat menyebar secara cepat pada anggota massa.

Lebih lanjut Le Bon Menyatakan “… Crowds are primitive and irrational.because the individual members of the crowds become submerged within the mass present “ bahwa masa dapat bertindak secara primitive dan tidak rasional karena individu yang menjadi bagian dari massa dan dipengaruhi sikap dan tindakan karena adanya massa yang hadir…. “ They develop a sense of anonymity while they  lose their responsibility . within this context , primodial instinct come to the fore. Crowds are inherently susceptible to suggestion , and it is easily for the leader of a crowd to unlock what le bon say “ ancestral savagery” and have the crowds act in violent ways Le Bon menambahkan bahwa pada konteks massa, maka individual akan menjadi hilang identitas dirinya  (de individualism) ,sehingga ia juga kehilangan tanggung jawab dan pikiran-pikiran dan tindakan premodial dikedepankan.
Hal ini memudahkan pemimpin massa membuka kunci kepribadian-kepribadian kuno berkaitan dengan brutalisme  dan menjadikan individu pada crowds melakukan berbagai bentuk kekerasan.[3]Sehingga dalam konteks inilah kemudian “crowds” adalah sesuatu yang selalu ditakuti “… The Crowds is always to be feared “.[4]
Le Bon juga menyatakan bahwa crowds merupakan proses transisi dari individual psycology kepada crowds psycology dimana terjadi perubahan pada situasi crowds seseorang kehilangan jati dirinya dan melebur menjadi jati diri kelompok yang olehnya disebut “ subject dari contagion”, contagion sendiri merupakan efek dari “ suggestibility”.
Dalam perspektif sejarahnya crowds lahir dari suatu kondisi ketimpangan social yang terjadi di masyarakat yang merangsang mereka untuk melakukan “ pemogokan (striking)”..Protes dan turun ke jalan sebagaimana dinyatakan oleh Elias Caneti “…It is for the sake of equality that people become a crowd and they tend to overlook anything which might detract from it. All demands for justice and all theories of equality familiar to anyone who has been part of crowds”.[5]
Pandangan Elias Caneti ini seolah olah mendukung pandangan Le Bon tentang “crowds” dimana garis persamaan atau simpul-simpul pemikiran Caneti dan Le Bon adalah adanya sekumpulan orang (  10-100-1000-10000) bersama-sama , dimana karakter kepribadian individu seolah-olah hilang , menjadi bagian dari karakter kolektif ( transformed to be one or homogenous body) yang isi pikirannya sama ( single headed collectively).
Pemikiran Le Bon tentang crowds meskipun pada kenyataannya menjadi titik tonggak dan menjadi kutub analisa bagi para ilmuwan dan praktisi dalam memahami “crowds” namun demikian secara kritis dan historis pemikiran Le Bon ini pun tidak luput dari pertentangan-pertentangan secara keilmuwan.
Harison Mark dalam bukunya Crowds and History , Phenomena In English menyatakan bahwa Teori Le Bon tentang crowds seolah olah menyingkirkan realitas sejarah bahwa crowds tidak selalu menakutkan dan berakhir dalam kekerasan yang oleh Le Bon Diartikan sebagai tindakan irrasional dan bar bar.
Sejarah di Inggris membuktikan bahwa “crowds” telah menjadi fenomena social di Inggris hampir 2 abad lamanya, “crowds” dapat dilihat pada berbagai kegiatan masyarakat kota di Inggris pada awal abad 19 seperti pertemuan politik oleh partai buruh yang di hadiri oleh lebih 150 ribu orang di London, Perayaan 50 Tahun Raja George yang dihadiri oleh 50 ribu orang di Liverpool, serta pesta balon di kota yang sama yang dihadiri 80 ribu orang, bahkan hampir sepertiga penduduk kota Manchester hadir pada kunjungan Henry Hunt pada tahun 1800 an.
Realitas tersebut menunjukkan bahwa kerumunan massa atau crowds dapat berjalan secara damai dan rasional dimana massa berfikir rasional dan bergembira.sehingga dari realita itu Harison Mark menyatakan bahwa crowds dalam formasinya dapat berwujud pada berbagai kesempatan dan kegiatan misalnya even olah raga, perayaan-perayaan kemasyarakatan, kegiatan-kegiatan politik dan parlemen seperti pemilihan umum, pertemuan politik, kerusuhan dan amuk massa, sampai dengan parade militer dan hari hari nasional lainnya.

Dalam dimensi politik, “crowds” dapat dipahami oleh beberapa ilmuwan social sebagai bagian dari “ social movement”, sebagaimana pandangan dari Eyerman dan Jamison pada tahun 1991 yang menyatakan “… the action of social movements are bearers of new ideas and have often been the sources of scientific theories, and of whole scientific fields, as well as a new political and social identities, as Example the rise of environment sciences of green sensitivity and green identities cannot be understood outside the actions of anti nuclear activism , road protesters and other collective act of opposition..”.
Dari pandangan Eyerman dan Jamison ini secara jelas dinyatakan bahwa “crowds” juga menjadi bagian untuk memahami realitas social dalam bentuk gerakan social yang dapat menunjukkan kepada kita identitas social dan politik di dalam sekelompok orang di dalam masyarakat. Seperti gerakan protes aktifis anti nuklir yang menunjjukan bahwa mereka memiliki indentitas social politik yang berbeda yang mereka dan kemudian kita pahami sebagai “ aktifis hijau”.
Dalam contoh  lainnya juga dapat kita lihat bahwa’ crowd’ merupakan bagian dari kekuasaan masyarakat dan kelompok oposisi untuk menunjukkan jati dirinya dan sebagai jalan untuk menunjukkan kritik dan protes serta tuntutan atas kondisi – kondisi social yang mereka rasakan memerlukan perubahan atau perbaikan.
Sejalan dengan pandangan Eyerman dan Jamison, Hannah arend Dalam On Violence , London, 1970 memberikan pandanganya bagaimana “kerumunan orang” atau “crowds’ memiliki kekuasaan (power), dimana arend percaya sepenuhnya bahwa kekuasaan selalu berbasis pada konsesus nilai bersama. Kekuasaan berkaitan dengan kemampuan manusia bukan hanya bertindak , tetapi bertindak secara bersama (in concert) . kekuasaan tidak pernah milik individual, ia milik kolektif dan tetap berada dalam keberadaannya sepanjang kelompok menjalin hidup bersama. Maka dari itu tidak lah heran unjuk rasa oleh sekelompok orang adalah bagian dari kekuasaan yang dimaksud oleh Hanah Arend.


Tentunya pandangan Le Bon tentang crowds mendapat berbagai tantangan dari pandangan-pandangn ilmuwan lain dalam memahami “crowds” sebagai mana di dalam tulisan pendahuluan dimana ilmuwan ilmuwan seperti Anthoni Gidens, Keller dan Calhoun, Kimball Young dan Contrills Yang memahami Crowds sebagai sesuatu yang tidak menakutkan , sesuatu situasi masyarakat yang damai sesuatau yang jauh dari kekerasan meskipun pada hal-hal tertentu adanya kesamaan yaitu berkumpulnya orang dalam jumlah tertentu karena adanya ransangan sehingga individu-individu yang berbeda kemudian menyatukan dirinya pada suatu tempat untuk melakukan tindakan yang sama missal menonton, berekspresi dan menyatukan dirinya dalam identitas tunggal yaitu “crowds” namun dalam kondisi rasional dan bukan irrasional sebagaimana pandangan Le Bon.
Dalam Konteks Inipun Penulis Mengkritik Pandangan Le Bon Tentang “Crowds” yang cenderung memahaminya secara negative dimana “Crowds” adalah sesuatu yang menakutkan karena di dalam nya terjadi Proses “ contagion” dimana “irrasional “ dan kekerasan dapat menyebar secara cepat pada anggota massa. Mungkin pandangan Le Bon Ini tidak sepenuhnya benar meskipun kita pun tidak serta merta menempatkan pandangan tersebut sebagai suatup pandangan yang usang dan tidak berguna, ketika penulis mencoba mengimplementasikannya pada realitas social kekinian, atau penulis ujinya dengan berbagai fakta empiric tentang crowd di masyarakat.
Sebagai polisi aktif yang telah bertugas hampir 21 tahun, pandangan Le Bon lebih cocok untuk dijadikan pisau analisa pada kasus kasus yang berhubungan dengan kerusuhan massa atau “ Collective Violence tetapi tidak lah tepat untuk digunakan pada konteks kerumunan orang yang lainnya. Sholat Iedul Fitri yang dilakukan sebagai tradisi dengan berkumpul nya ratusan orang bahkan ribuan orang di satu lapangan sepak bola umumnya berjalan secara damai, unjuk rasa di depan istana negara ataupun di depan kantor DPR RI umumnya berjalan secara tertib dan terkendali.
Namun demikian dalam konteks politik, sering kali “crowds” digunakan sebagai pressure group bagi kelompok politik dan organisasi kemasyarakatan untuk melakukan tekanan kepada pemerintah untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu.Meskipun makna penekanan mengandung arti kekerasan, tetapi tindakan  individu dalam kelompok tersebut tetaplah rasional karena dilakukan dalam suatu kegiatan yang dilindungi oleh Undang-Undang.
Pandangan Le Bon yang menempatkan kekerasan sebagai bagian dari crowds selain merunut pada sejarah penemuan teorinya  yaitu ketika terjadinya revolusi perancis. Mungkin saja pandangannya sangat dipengaruhi oleh pandangan Thomas Hobbes  (1558) tentang manusia yaitu mahluk yang dikuasai oleh dororongan-dorongan irrasional dan anarkitis serta mekanistis yang saling mengiri dan membenci sehingga menjadi kasar, jahat, buas , pendek pikir. Inilah sosok homo homini lupus , manusia adalah serigala bagi yang lain dan akibatnya perang semua lawan semua (bellum omnium contra omnes).
Mengutip tulisan yang disampaikan oleh Muhamad Asfar “kekerasan Politik Dalam Demokrasi: Analisis Terhadap Kekerasan Politik di Seputar Pemilu 1997” dimana pemulis mengutip tulisan James Rule, Theory Of Civil Violence, Barkely University, California Press 1988 yang memberikan penjelasan bahwa “kekerasan kolektif selalu dilihat dari “factor-faktor luar” para pelaku kekerasan mengabaikan factor-faktor motivasi dan strategi. Tindakan kekerasan kolektif dianggap tidak lebih dari artefak atau produk struktur”.
Artinya teori crowd yang disampaikan oleh Le Bon, tidak lah menjelaskan secara tegas latar belakang atau factor factor lain yang diluar diri crowd yang menyebakan mereka melakukan kekerasan secara kolektif. Benar bahwa terjadi unjuk rasa yang dilakukan oleh sekelompok orang tetati kemudian unjuk rasa tersebut bisa menimbulkan kekerasan dan kekacauan tidaklah dijelaskan secara jelas oleh Le Bon.



Mengingat saat teori ini ditemukan era revolusi industry saat itu telah menimbulkan situasi konflik antara the rulling class dan kelompok pekerja (the ruled class), bisa saja kekerasan tersebut terjadi karena adanya tindakan kekerasan yang dilakukan terlebih dahulu oleh penguasa melalui kekuatan militer atau polisi yang merupakan alat penguasa untuk mengendalikan masyarakat pada saat itu.
Karena hal yang sama terjadi juga di Inggris dimana militer yang digunakan oleh penguasa saat itu melakukan kekerasan terlebih dahulu kepada penggunjuk rasa yang kemudian menimbulkan terjadinya kekerasan kolektif antara penguasa dan pengunjuk rasa yang menimbulkan korban jiwa pada masyarakat yang kemudian peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan “waterloo massacre”.[6]

C.   KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan makalah ini , Le Bon menyatakan dalam perspektif “ crowd psycolgist” dan “ self –styled social scientist bahwa karakter dari “crowds” itu sangat mengagumkan (awesome), Menakuktkan (terrifying), Brutal (Savage), berdasarkan insting (Instinctual),seperti binatang buas( bestial), tidak dapat diperkirakan (capricious) dan  kekerasan (violent).
Selanjutnya dikatakan bahwa “crowds” adalah perwakilan dari evolusi regresi dari peradaban manusia. Pada tahap akhir pembangunan manusia sebagai akses dari perilaku yang irasional. Ia juga mengklasifikan crowds pada 2 klasifikan yaitu heterogenous crowds yang cenderung anonimitas seperti “ street crowds” dan homogenous crowds yang orang-orangnya cenderung dapat dikenal dan dipahami seperti perkumpulan agama, polisi, militer dan kelas-kelas social lainnya.
Selanjutnya dijelaskan bahwa tidak serta merta menyamakan “mob” dan “crowds”, dalam pemikirannya, bahwa crowds memiliki ciri ciri seperti mob ( Mob – Like attitude) yaitu penularan ( infectious), agresive, dan tidak peduli dimana Le Bon cenderung menyebutnya sebagai “fickle”.
Meskipun pada perkembangannya pandangan Le Bon tentang crowds mendapatkan berbagai pertentangan, sehingga melahirkan berbagai teori baru yang berkaitan dengan crowds baik secara sosiologi, politik dan sejarah, pandangan Le Bon ini meskipun bersifat tendensius terhadap pemaknaan “crowds” secara umum namun pada konteks tertentu pandangan ini tidaklah usang dan masih relevan menjadi dasar bagi kajian-kajian ilmiah dan praktis dalam memahami “crowds” baik dalam dimensi sosiologis, politik dan sejarah.
Karena pada kenyataannya “ crowds” sangatlah dinamis dan memiliki banyak pemaknaan tergantung pada konteks peristiwanya. “crowds” bisa dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menakutkan karena baying-bayang kekerasan kolektif yang tidak terkendali dan merusak ada padanya, tetapi di sisi yang lain “crowds” adalah sesuatu yang menyenangkan karena kegembiraan dapat dirasakan secara bersama.
Demikian pula  dalam konteks hubungan crowds dengan politik , bagi kelompok dominasi yang menginginkan stabilitas dan anti terhadap gangguan , maka “crowds” dapat dimaknai sebagai ancaman dan kecenderungan teori dan pandangan “Le Bon “ tentang crowds digunakan sebagai justifikasi dari tindakan coercive yang dilakukan oleh penguasa. Demikian pula sebaliknya dalam konteks demokrasi, “crowds” adalah salah satu jelmaan kekuasan politik bersama dari masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya dan melakukan penekanan terhadap penguasa atas aspirasi-aspirasi yang diharapkan oleh masyarakat luas. Sehingga crowds dalam konteks ini merupakan upaya kolektif untuk menempatkan kesetaraan antara penguasa dan masyarakat dalam memperbaiki kehidupan social yang lebih baik.
Dalam konteks kekerasan, meskipun pandangan Le Bon yang seolah-olah memahami kekerasan sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari crowds, namun crowds pun dapat mentransformasi menjadi suatu bentuk kekerasan kolektif jika ada factor-faktor pencetusnya (stimulus  factors). Faktor pencetusnya bisa lahir dari dalam diri” crowds” sendiri maupun dari luar “crowds”. Kekerasan oleh petugas keamanan yang berlebihan terhadap “crowds” dapat memicu transformasinya “crowds” menjadi agen kekerasan kolektif, sebaliknya tidak menutup kemungkinan “crowds” itu sendiri memiliki benih benih kekerasan sebagai bagian dari budaya yang melekat pada “crowds” sehingga budaya kekerasan tersebut dapat dimunculkan oleh “crowds” setiap waktu dengan tujuan tujuan dan penyebabnya Ketika itu terjadi maka kembali kepada teori Le Bon , bahwa kekerasan kolektif yang terjadi pada “crowds” merupakan pencerminan dari hilangnya rasionalitas, hilangnya jati diri individu, hilangnya tanggung jawab karena adanya anonimitas, serta adanya kekerasan kolektif yang merupakan lahir dari apa yang disebutnya sebagai proses “contagion”.





Kata kunci : Crowds-De Individualism-Irrasional-Contagion-Suggestibility-Anomity-Violent
            Referensi :
  Anshori, Mohammad, Perilaku Massa, Anshorfazafauzan.Blogspot.Com
Arend, Hannah,  Dalam On Violence , London, 1970
Asfar, Mohammad “kekerasan Politik Dalam Demokrasi: Analisis Terhadap Kekerasan Politik di Seputar Pemilu 1997”
  Caneti Elias, Crowds and Power,Trans, Carol Stewart, Harmondsworth, 1973
David White House dalam “ The Origins Of The Police” ,1986
  Harisson Mark, Crowds and History-Mass Phenomena In English Towns (1790-1835), Cambiridge University Press, 1988
  Le Bon Theories Of The Crowd, Diunduh dari Internet , 2015
  Macios John, Sociology, 12 th edition, Prentice Hall, 2008


[1] Macios john, sociology, 12 th edition, prentice hall, 2008
[2] Anshori, Mohammad, Perilaku Massa, anshorfazafauzan.blogspot.com
[3] Le Bon Theories Of The Crowd, Diunduh dari Internet , 2015
[4] Harisson Mark, Crowds and History-Mass Phenomena In English Towns (1790-1835), cambiridge university press, 1988
[5] Caneti Elias, Crowds and Powe, trans, carol stewart, Harmondsworth, 1973
[6] David White House dalam “ The Origins Of The Police” ,menggambarkan sebagai berikut “ In England and The United States, The Police were invented within the space of just a few decades roughly from 1825 to 1855. The new institution was not a response to an increase in crime, and it really didn’t lead to new methods for dealing with crime. The most common way for authorities to solve a crime, before and since the invention of police, has been for someone to tell them who dit it.
Besides , crime has to do with the acts of individuals, and the ruling elites who invented the police were responding to challenges posed by collective action. To put it in a nutshell : The authorities created the police in response to large, a defiants crowds, that’s strikes in England, riots in the northern US, and threat of slave insurrections in the south. So the police are a response to crowds, not crime…”.gagasan untuk menangani massa mulai muncul ketika terjadi perjuangan kelas yang lahir dari perseteruan antara si kaya dan si miskin , antara kelompok dominan dan minoritas sejalan dengan awal-awal akan masuknya era revolusi industri, dimana pada saat itu polisi belum terbentuk maka penguasa saat itu menggunakan tentara untuk menangani konflik antara masyarakat miskin dan masyarakat kaya dan dengan cara menembaki massa atau menangkap pemimpin dari massa yang melakukan pemberontakan “… there still weren’t cops, but the richer classes began to resort to more and more violence to suppress the poor population . sometimes the army was ordered to shoot into rebellious crowds, and sometimes the constables would arrest the leaders and hang them. So class struggle was beginning to heat up , but things really began to change when the industrial revolution took off in England”.
Kerusuhan terbesar pada era itu terjadi di Inggris tepatnya di kota Manchester dan terjadi 1819. Bala tentara pada waktu itu dikirim untuk membubarkan unjuk rasa dari massa yang berasal dari kelompok pekerja yang berjumlah 80.000 orang. Dari bentrokan yang terjadi antara tentara dengan massa tersebut menimbulkan korban sebanyak ratusan orang cedera dan 11 (sebelas) orang meninggal dunia, bermaksud membubarkan massa , tentara inggris justru melakukan tindakan brutal yang dikenal dengan “waterloo massacre” yang justru memicu unjuk rasa yang lebih besar.
Akibat dari itu “ The Ruling Class” membutuhkan institusi baru yang mampu menangani secara baik unjuk rasa yang dilakukan oleh massa dari kelas pekerja dengan cara cara yang tidak mematikan yang hanya akan melahirkan martir martir baru dari kelas pekerja. Tugas ini kemudian dibebankan kepada “the London police” yang didirikan pada tahun 1829 , 10 tahun setelah pertistiwa water loo. Penanganan terhadap unjuk rasa merupakan 1 (satu) dari 2 (dua) tugas pokok kepolisian London yang saat itu mulai diorganisasikan secara baik. Adapun tugas pokok kepolisian London tahun itu adalah “ firstly is fighting the crime through surveillance and intimidation against the criminal by doing beat patrolling   and secondly  to handle strikes, riots and major demonstration”.


A.   KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan makalah ini , Le Bon menyatakan dalam perspektif “ crowd psycolgist” dan “ self –styled social scientist bahwa karakter dari “crowds” itu sangat mengagumkan (awesome), Menakuktkan (terrifying), Brutal (Savage), berdasarkan insting (Instinctual),seperti binatang buas( bestial), tidak dapat diperkirakan (capricious) dan  kekerasan (violent).
Selanjutnya dikatakan bahwa “crowds” adalah perwakilan dari evolusi regresi dari peradaban manusia. Pada tahap akhir pembangunan manusia sebagai akses dari perilaku yang irasional. Ia juga mengklasifikan crowds pada 2 klasifikan yaitu heterogenous crowds yang cenderung anonimitas seperti “ street crowds” dan homogenous crowds yang orang-orangnya cenderung dapat dikenal dan dipahami seperti perkumpulan agama, polisi, militer dan kelas-kelas social lainnya.
Selanjutnya dijelaskan bahwa tidak serta merta menyamakan “mob” dan “crowds”, dalam pemikirannya, bahwa crowds memiliki ciri ciri seperti mob ( Mob – Like attitude) yaitu penularan ( infectious), agresive, dan tidak peduli dimana Le Bon cenderung menyebutnya sebagai “fickle”.
Meskipun pada perkembangannya pandangan Le Bon tentang crowds mendapatkan berbagai pertentangan, sehingga melahirkan berbagai teori baru yang berkaitan dengan crowds baik secara sosiologi, politik dan sejarah, pandangan Le Bon ini meskipun bersifat tendensius terhadap pemaknaan “crowds” secara umum namun pada konteks tertentu pandangan ini tidaklah usang dan masih relevan menjadi dasar bagi kajian-kajian ilmiah dan praktis dalam memahami “crowds” baik dalam dimensi sosiologis, politik dan sejarah.
Karena pada kenyataannya “ crowds” sangatlah dinamis dan memiliki banyak pemaknaan tergantung pada konteks peristiwanya. “crowds” bisa dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menakutkan karena baying-bayang kekerasan kolektif yang tidak terkendali dan merusak ada padanya, tetapi di sisi yang lain “crowds” adalah sesuatu yang menyenangkan karena kegembiraan dapat dirasakan secara bersama.
Demikian pula  dalam konteks hubungan crowds dengan politik , bagi kelompok dominasi yang menginginkan stabilitas dan anti terhadap gangguan , maka “crowds” dapat dimaknai sebagai ancaman dan kecenderungan teori dan pandangan “Le Bon “ tentang crowds digunakan sebagai justifikasi dari tindakan coercive yang dilakukan oleh penguasa. Demikian pula sebaliknya dalam konteks demokrasi, “crowds” adalah salah satu jelmaan kekuasan politik bersama dari masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya dan melakukan penekanan terhadap penguasa atas aspirasi-aspirasi yang diharapkan oleh masyarakat luas. Sehingga crowds dalam konteks ini merupakan upaya kolektif untuk menempatkan kesetaraan antara penguasa dan masyarakat dalam memperbaiki kehidupan social yang lebih baik.
Dalam konteks kekerasan, meskipun pandangan Le Bon yang seolah-olah memahami kekerasan sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari crowds, namun crowds pun dapat mentransformasi menjadi suatu bentuk kekerasan kolektif jika ada factor-faktor pencetusnya (stimulus  factors). Faktor pencetusnya bisa lahir dari dalam diri” crowds” sendiri maupun dari luar “crowds”. Kekerasan oleh petugas keamanan yang berlebihan terhadap “crowds” dapat memicu transformasinya “crowds” menjadi agen kekerasan kolektif, sebaliknya tidak menutup kemungkinan “crowds” itu sendiri memiliki benih benih kekerasan sebagai bagian dari budaya yang melekat pada “crowds” sehingga budaya kekerasan tersebut dapat dimunculkan oleh “crowds” setiap waktu dengan tujuan tujuan dan penyebabnya Ketika itu terjadi maka kembali kepada teori Le Bon , bahwa kekerasan kolektif yang terjadi pada “crowds” merupakan pencerminan dari hilangnya rasionalitas, hilangnya jati diri individu, hilangnya tanggung jawab karena adanya anonimitas, serta adanya kekerasan kolektif yang merupakan lahir dari apa yang disebutnya sebagai proses “contagion”.





Kata kunci : Crowds-De Individualism-Irrasional-Contagion-Suggestibility-Anomity-Violent
            Referensi :
  Anshori, Mohammad, Perilaku Massa, Anshorfazafauzan.Blogspot.Com
Arend, Hannah,  Dalam On Violence , London, 1970
Asfar, Mohammad “kekerasan Politik Dalam Demokrasi: Analisis Terhadap Kekerasan Politik di Seputar Pemilu 1997”
  Caneti Elias, Crowds and Power,Trans, Carol Stewart, Harmondsworth, 1973
David White House dalam “ The Origins Of The Police” ,1986
  Harisson Mark, Crowds and History-Mass Phenomena In English Towns (1790-1835), Cambiridge University Press, 1988
  Le Bon Theories Of The Crowd, Diunduh dari Internet , 2015
  Macios John, Sociology, 12 th edition, Prentice Hall, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar