TEORI
TENTANG MASSA (CROWD) OLEH GUSTAVE LE BON
OLEH
ANDRY
WIBOWO
MAHASISWA
PROGRAM S3 STIK
A. PENDAHULUAN
Pemahaman crowds dalam terminology indonesia adalah
kerumunan orang tetapi kerumunan orang tersebut sering secara popular disebut
dengan massa contoh amuk massa dan bukan amuk kerumunan, kerusuhan massa dan
bukan kerusuhan kerumunan.
Selain dari pada itu “crowds”
dan “mass” dalam bahasa Inggris jika dipadankan dengan perilaku kolektiv di
defenisikan dan dimaknai secara berbeda dimana crowds didefinisikan “ a temporary gathering of people who share a
common focus of attention and who influences one another “ jika diartikan
dalam bahasa Indonesia “crowds” suatu
kumpulan orang yang bersifat sementara yang mana memiliki focus perhatian yang
sama dan saling mempengaruhi diantara mereka Blummer mengidentifikasikan “crowds” dalam 4 ( empat) Type :
1. A Casual Crowd “
kerumunan biasa” missal orang-orang yang sedang berada di pinggir pantai
2. A conventional Crowd “
kerumunanan konvensional” missal murid-murid yang ada di dalam kelas;
3. An expressive Crowd “
kerumunan yang eksprisive” missal orang-orang yang ada di dalam kebaktian
gereja;
4. An Acting Crowd “
Kerumunan Bertingkah laku “ missal orang-orang yang sedang berdemonstrasi
Sedangkan “mass”
dalam bahasa Inggris didefinisikan dan dimaknai “ collective behavior among people dispersed over a wide geographical
area “ atau suatu perilaku kolektiv pada masyarakat yang mendiami area
geography yang luas sebagai contoh rumor, gossip, opini public, propaganda,
panic, hysteria massa. [1]
Dalam penulisan makalah ini yang dimaksud dengan “crowd” adalah massa meskipun jika kita
mengartikannya dengan perspective perilaku kolektif dalam terminology bahasa
Inggris diatas maka secara semantic maka kata “crowds” dan “mass”
memiliki arti dalam bahasa Indonesia yang berbeda.
Penelitian tentang perilaku massa telah mendapatkan
tempatnya dalam ilmu social ( psycologi social, sosiologi, sejarah ) sejak gustave le bon ( the founding father of modern crowd psycology) menemukan teori
tentang crowd dalam “the crowd of mind” pada tahun 1890an.
Sebelum masuk pada pembahasan secara khusus tentang
sejarah , kontek dan konten dari teori le bon , disampaikan Beberapa pandangan ilmuwan social tentang
crowd :[2]
Anthoni gidens “ massa adalah sekumpulan orang dalam
jumlah relative besar yang berinteraksi satu dengan lainnya di tempat umum”
Keller dan Calhoun “ massa adalah sekumpulan orang yang berkumpul di
sekitar seseorang atau suatu kejadian, sadar akan kehadiran orang lain dan
dipengaruhi orang lain”.
Kimball Young “ sekumpulan orang yang berjumlah tertentu
yang berkumpul di “centre point” karena adanya daya tarik tertentu”;
Contrills “ massa adalah sekeompok individu yang membaur
menjadi satu dalam waktu tertentu didasarkan pada nilai-nilai yang sama dan
melampiaskan emosi yang sama”;
Anderson dan Parker “ massa adalah kerumunan orang yang
dibentuk secara kolektif di suatu tempat tertentu dengan tujuan tertentu karena
adanya rangsangan sehingga melakukan suatu tindakan sama sebagai bentuk reaksi
“
Dari beberapa definisi tersebut maka penulis seidaknya
memahami massa berdasarkan karakteristik yang disampaikan oleh ilmuwan social
diatas sebagai berikut :
1. Sekumpulan
orang dalam jumlah tertentu ;
2. Berkumpul
di tempat tertentu dalam waktu yang sama
3. Adanya
sesuatu yang menarik perhatian sebagai rangsangan ( biasa orang atau peristiwa)
4. Melakukan
tindakan tertentu secara bersama;
B. PEMBAHASAN
Le Bon Membangun Teorinya tentang “crowds” di Perancis pada tahun 1890an di saat di daratan eropa
banyak terjadi guncangan social dan banyaknya terjadi demonstrasi maupun pemogokan.
Le Bon Memandang Crowds
“ … By The Mere Fact That He Forms Part
Of an Organized Crowds , a Man Descends
several rungs in the ladder of civilization, isolated, he may be
calculated individual, in a crowd he is barbarian , that is , a creature acting
by instinct…”…. Le Bon Though that crowds were influenced by a process called
“contagion” . Contagion refers to the process whereby “irrational” and violent
feelings can spread through the member of a crowd”…
Dari banyak fakta bahwa Le Bon memahami massa merupakan
bagian dari dinamika perubahan peradaban pada saat itu, Ia “Le Bon” memandang
bahwa di dalam masa individu dapat bertindak secara barbar . bahwa tindakan
massa seperti ini dipengaruhi oleh suatu proses yang disebut dengan “contagion”
dimana “irrasional “ dan
kekerasan dapat menyebar secara cepat pada anggota massa.
Lebih lanjut Le Bon Menyatakan “… Crowds are primitive and irrational.because the individual members
of the crowds become submerged within the mass present “ bahwa masa dapat
bertindak secara primitive dan tidak rasional karena individu yang menjadi
bagian dari massa dan dipengaruhi sikap dan tindakan karena adanya massa yang
hadir…. “ They develop a sense of anonymity while they lose
their responsibility . within this context , primodial instinct come to the
fore. Crowds are inherently susceptible to suggestion , and it is easily for
the leader of a crowd to unlock what le bon say “ ancestral savagery” and have
the crowds act in violent ways…
Le Bon menambahkan bahwa pada konteks massa, maka individual akan menjadi
hilang identitas dirinya (de
individualism) ,sehingga ia juga kehilangan tanggung jawab dan
pikiran-pikiran dan tindakan premodial dikedepankan.
Hal ini memudahkan pemimpin massa membuka kunci kepribadian-kepribadian
kuno berkaitan dengan brutalisme dan
menjadikan individu pada crowds
melakukan berbagai bentuk kekerasan.[3]Sehingga dalam konteks
inilah kemudian “crowds” adalah
sesuatu yang selalu ditakuti “… The
Crowds is always to be feared “.[4]
Le Bon juga menyatakan bahwa crowds merupakan proses transisi dari individual psycology kepada crowds
psycology dimana terjadi perubahan pada situasi crowds seseorang kehilangan
jati dirinya dan melebur menjadi jati diri kelompok yang olehnya disebut “ subject dari contagion”, contagion
sendiri merupakan efek dari “ suggestibility”.
Dalam perspektif sejarahnya crowds lahir dari suatu kondisi ketimpangan social yang terjadi di
masyarakat yang merangsang mereka untuk melakukan “ pemogokan (striking)”..Protes dan turun ke jalan sebagaimana
dinyatakan oleh Elias Caneti “…It is for
the sake of equality that people become a crowd and they tend to overlook
anything which might detract from it. All demands for justice and all theories
of equality familiar to anyone who has been part of crowds”.[5]
Pandangan Elias Caneti ini seolah olah mendukung
pandangan Le Bon tentang “crowds”
dimana garis persamaan atau simpul-simpul pemikiran Caneti dan Le Bon adalah
adanya sekumpulan orang ( 10-100-1000-10000) bersama-sama , dimana
karakter kepribadian individu seolah-olah hilang , menjadi bagian dari karakter
kolektif ( transformed to be one or homogenous body) yang isi pikirannya
sama ( single headed collectively).
Pemikiran Le Bon tentang crowds meskipun pada
kenyataannya menjadi titik tonggak dan menjadi kutub analisa bagi para ilmuwan
dan praktisi dalam memahami “crowds” namun demikian secara kritis dan historis
pemikiran Le Bon ini pun tidak luput dari pertentangan-pertentangan secara
keilmuwan.
Harison Mark dalam bukunya Crowds and History , Phenomena In English menyatakan bahwa Teori Le
Bon tentang crowds seolah olah
menyingkirkan realitas sejarah bahwa crowds tidak selalu menakutkan dan
berakhir dalam kekerasan yang oleh Le Bon Diartikan sebagai tindakan irrasional
dan bar bar.
Sejarah di Inggris membuktikan bahwa “crowds” telah menjadi fenomena social di
Inggris hampir 2 abad lamanya, “crowds”
dapat dilihat pada berbagai kegiatan masyarakat kota di Inggris pada awal abad
19 seperti pertemuan politik oleh partai buruh yang di hadiri oleh lebih 150
ribu orang di London, Perayaan 50 Tahun Raja George yang dihadiri oleh 50 ribu
orang di Liverpool, serta pesta balon di kota yang sama yang dihadiri 80 ribu
orang, bahkan hampir sepertiga penduduk kota Manchester hadir pada kunjungan
Henry Hunt pada tahun 1800 an.
Realitas tersebut menunjukkan bahwa kerumunan massa atau crowds dapat berjalan secara damai dan
rasional dimana massa berfikir rasional dan bergembira.sehingga dari realita
itu Harison Mark menyatakan bahwa crowds
dalam formasinya dapat berwujud pada berbagai kesempatan dan kegiatan misalnya
even olah raga, perayaan-perayaan kemasyarakatan, kegiatan-kegiatan politik dan
parlemen seperti pemilihan umum, pertemuan politik, kerusuhan dan amuk massa,
sampai dengan parade militer dan hari hari nasional lainnya.
Dalam dimensi politik, “crowds” dapat dipahami oleh beberapa ilmuwan social sebagai bagian
dari “ social movement”, sebagaimana
pandangan dari Eyerman dan Jamison pada tahun 1991 yang menyatakan “… the action of social movements are bearers
of new ideas and have often been the sources of scientific theories, and of
whole scientific fields, as well as a new political and social identities, as
Example the rise of environment sciences of green sensitivity and green
identities cannot be understood outside the actions of anti nuclear activism ,
road protesters and other collective act of opposition..”.
Dari pandangan Eyerman dan Jamison ini secara jelas dinyatakan
bahwa “crowds” juga menjadi bagian
untuk memahami realitas social dalam bentuk gerakan social yang dapat
menunjukkan kepada kita identitas social dan politik di dalam sekelompok orang
di dalam masyarakat. Seperti gerakan protes aktifis anti nuklir yang
menunjjukan bahwa mereka memiliki indentitas social politik yang berbeda yang
mereka dan kemudian kita pahami sebagai “ aktifis hijau”.
Dalam contoh lainnya juga dapat kita lihat bahwa’ crowd’ merupakan bagian dari kekuasaan
masyarakat dan kelompok oposisi untuk menunjukkan jati dirinya dan sebagai
jalan untuk menunjukkan kritik dan protes serta tuntutan atas kondisi – kondisi
social yang mereka rasakan memerlukan perubahan atau perbaikan.
Sejalan dengan pandangan Eyerman dan Jamison, Hannah
arend Dalam On Violence , London, 1970 memberikan pandanganya bagaimana
“kerumunan orang” atau “crowds’
memiliki kekuasaan (power), dimana
arend percaya sepenuhnya bahwa kekuasaan selalu berbasis pada konsesus nilai
bersama. Kekuasaan berkaitan dengan kemampuan manusia bukan hanya bertindak ,
tetapi bertindak secara bersama (in
concert) . kekuasaan tidak pernah milik individual, ia milik kolektif dan
tetap berada dalam keberadaannya sepanjang kelompok menjalin hidup bersama.
Maka dari itu tidak lah heran unjuk rasa oleh sekelompok orang adalah bagian
dari kekuasaan yang dimaksud oleh Hanah Arend.
Tentunya pandangan Le Bon tentang crowds mendapat berbagai tantangan dari pandangan-pandangn ilmuwan
lain dalam memahami “crowds” sebagai mana di dalam tulisan pendahuluan dimana
ilmuwan ilmuwan seperti Anthoni Gidens, Keller dan Calhoun, Kimball Young dan
Contrills Yang memahami Crowds sebagai
sesuatu yang tidak menakutkan , sesuatu situasi masyarakat yang damai sesuatau
yang jauh dari kekerasan meskipun pada hal-hal tertentu adanya kesamaan yaitu
berkumpulnya orang dalam jumlah tertentu karena adanya ransangan sehingga
individu-individu yang berbeda kemudian menyatukan dirinya pada suatu tempat
untuk melakukan tindakan yang sama missal menonton, berekspresi dan menyatukan
dirinya dalam identitas tunggal yaitu “crowds”
namun dalam kondisi rasional dan bukan irrasional sebagaimana pandangan Le
Bon.
Dalam Konteks Inipun Penulis Mengkritik Pandangan Le Bon
Tentang “Crowds” yang cenderung
memahaminya secara negative dimana “Crowds”
adalah sesuatu yang menakutkan karena di dalam nya terjadi Proses “ contagion” dimana “irrasional “ dan kekerasan dapat menyebar secara cepat pada anggota
massa. Mungkin pandangan Le Bon Ini tidak sepenuhnya benar meskipun kita pun
tidak serta merta menempatkan pandangan tersebut sebagai suatup pandangan yang
usang dan tidak berguna, ketika penulis mencoba mengimplementasikannya pada
realitas social kekinian, atau penulis ujinya dengan berbagai fakta empiric
tentang crowd di masyarakat.
Sebagai polisi aktif yang telah bertugas hampir 21 tahun,
pandangan Le Bon lebih cocok untuk dijadikan pisau analisa pada kasus kasus
yang berhubungan dengan kerusuhan massa atau “ Collective Violence” tetapi
tidak lah tepat untuk digunakan pada konteks kerumunan orang yang lainnya.
Sholat Iedul Fitri yang dilakukan sebagai tradisi dengan berkumpul nya ratusan
orang bahkan ribuan orang di satu lapangan sepak bola umumnya berjalan secara
damai, unjuk rasa di depan istana negara ataupun di depan kantor DPR RI umumnya
berjalan secara tertib dan terkendali.
Namun demikian dalam konteks politik, sering kali “crowds” digunakan sebagai pressure group bagi kelompok politik dan
organisasi kemasyarakatan untuk melakukan tekanan kepada pemerintah untuk
melakukan dan tidak melakukan sesuatu.Meskipun makna penekanan mengandung arti
kekerasan, tetapi tindakan individu
dalam kelompok tersebut tetaplah rasional karena dilakukan dalam suatu kegiatan
yang dilindungi oleh Undang-Undang.
Pandangan Le Bon yang menempatkan kekerasan sebagai
bagian dari crowds selain merunut
pada sejarah penemuan teorinya yaitu
ketika terjadinya revolusi perancis. Mungkin saja pandangannya sangat
dipengaruhi oleh pandangan Thomas Hobbes
(1558) tentang manusia yaitu mahluk yang dikuasai oleh
dororongan-dorongan irrasional dan anarkitis serta mekanistis yang saling
mengiri dan membenci sehingga menjadi kasar, jahat, buas , pendek pikir. Inilah
sosok homo homini lupus , manusia adalah serigala bagi yang lain dan akibatnya
perang semua lawan semua (bellum omnium
contra omnes).
Mengutip tulisan yang disampaikan oleh Muhamad Asfar
“kekerasan Politik Dalam Demokrasi: Analisis Terhadap Kekerasan Politik di
Seputar Pemilu 1997” dimana pemulis mengutip tulisan James Rule, Theory Of Civil Violence, Barkely
University, California Press 1988 yang memberikan penjelasan bahwa “kekerasan kolektif selalu dilihat dari
“factor-faktor luar” para pelaku kekerasan mengabaikan factor-faktor motivasi
dan strategi. Tindakan kekerasan kolektif dianggap tidak lebih dari artefak
atau produk struktur”.
Artinya teori crowd
yang disampaikan oleh Le Bon, tidak lah menjelaskan secara tegas latar
belakang atau factor factor lain yang diluar diri crowd yang menyebakan mereka
melakukan kekerasan secara kolektif. Benar bahwa terjadi unjuk rasa yang
dilakukan oleh sekelompok orang tetati kemudian unjuk rasa tersebut bisa
menimbulkan kekerasan dan kekacauan tidaklah dijelaskan secara jelas oleh Le
Bon.
Mengingat saat teori ini ditemukan era revolusi industry
saat itu telah menimbulkan situasi konflik antara the rulling class dan kelompok
pekerja (the ruled class), bisa saja
kekerasan tersebut terjadi karena adanya tindakan kekerasan yang dilakukan
terlebih dahulu oleh penguasa melalui kekuatan militer atau polisi yang
merupakan alat penguasa untuk mengendalikan masyarakat pada saat itu.
Karena hal yang sama terjadi juga di Inggris dimana
militer yang digunakan oleh penguasa saat itu melakukan kekerasan terlebih
dahulu kepada penggunjuk rasa yang kemudian menimbulkan terjadinya kekerasan
kolektif antara penguasa dan pengunjuk rasa yang menimbulkan korban jiwa pada
masyarakat yang kemudian peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan “waterloo massacre”.[6]
C. KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan makalah ini , Le Bon menyatakan dalam
perspektif “ crowd psycolgist” dan “ self –styled social scientist bahwa
karakter dari “crowds” itu sangat
mengagumkan (awesome), Menakuktkan (terrifying), Brutal (Savage), berdasarkan insting (Instinctual),seperti binatang buas( bestial), tidak dapat diperkirakan (capricious) dan kekerasan (violent).
Selanjutnya dikatakan bahwa “crowds” adalah perwakilan dari evolusi regresi dari peradaban
manusia. Pada tahap akhir pembangunan manusia sebagai akses dari perilaku yang
irasional. Ia juga mengklasifikan crowds pada 2 klasifikan yaitu heterogenous crowds yang cenderung
anonimitas seperti “ street crowds”
dan homogenous crowds yang
orang-orangnya cenderung dapat dikenal dan dipahami seperti perkumpulan agama,
polisi, militer dan kelas-kelas social lainnya.
Selanjutnya dijelaskan bahwa tidak serta merta menyamakan
“mob” dan “crowds”, dalam pemikirannya, bahwa crowds memiliki ciri ciri
seperti mob ( Mob – Like attitude)
yaitu penularan ( infectious), agresive, dan tidak peduli dimana Le Bon
cenderung menyebutnya sebagai “fickle”.
Meskipun pada perkembangannya pandangan Le Bon tentang crowds mendapatkan berbagai
pertentangan, sehingga melahirkan berbagai teori baru yang berkaitan dengan crowds baik secara sosiologi, politik
dan sejarah, pandangan Le Bon ini meskipun bersifat tendensius terhadap
pemaknaan “crowds” secara umum namun
pada konteks tertentu pandangan ini tidaklah usang dan masih relevan menjadi
dasar bagi kajian-kajian ilmiah dan praktis dalam memahami “crowds” baik dalam dimensi sosiologis, politik dan sejarah.
Karena pada kenyataannya “ crowds” sangatlah dinamis dan memiliki banyak pemaknaan
tergantung pada konteks peristiwanya.
“crowds” bisa dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menakutkan karena
baying-bayang kekerasan kolektif yang tidak terkendali dan merusak ada padanya,
tetapi di sisi yang lain “crowds” adalah
sesuatu yang menyenangkan karena kegembiraan dapat dirasakan secara bersama.
Demikian pula
dalam konteks hubungan crowds
dengan politik , bagi kelompok dominasi yang menginginkan stabilitas dan anti
terhadap gangguan , maka “crowds”
dapat dimaknai sebagai ancaman dan kecenderungan teori dan pandangan “Le Bon “
tentang crowds digunakan sebagai
justifikasi dari tindakan coercive yang dilakukan oleh penguasa. Demikian pula
sebaliknya dalam konteks demokrasi, “crowds”
adalah salah satu jelmaan kekuasan politik bersama dari masyarakat untuk
menyalurkan aspirasinya dan melakukan penekanan terhadap penguasa atas
aspirasi-aspirasi yang diharapkan oleh masyarakat luas. Sehingga crowds dalam konteks ini merupakan
upaya kolektif untuk menempatkan kesetaraan antara penguasa dan masyarakat
dalam memperbaiki kehidupan social yang lebih baik.
Dalam konteks kekerasan, meskipun pandangan Le Bon yang
seolah-olah memahami kekerasan sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari crowds, namun crowds pun dapat mentransformasi menjadi suatu bentuk kekerasan
kolektif jika ada factor-faktor pencetusnya (stimulus factors). Faktor
pencetusnya bisa lahir dari dalam diri” crowds”
sendiri maupun dari luar “crowds”.
Kekerasan oleh petugas keamanan yang berlebihan terhadap “crowds” dapat memicu transformasinya “crowds” menjadi agen kekerasan kolektif, sebaliknya tidak menutup
kemungkinan “crowds” itu sendiri
memiliki benih benih kekerasan sebagai bagian dari budaya yang melekat pada “crowds” sehingga budaya kekerasan
tersebut dapat dimunculkan oleh “crowds”
setiap waktu dengan tujuan tujuan dan penyebabnya Ketika itu terjadi maka
kembali kepada teori Le Bon , bahwa kekerasan kolektif yang terjadi pada “crowds” merupakan pencerminan dari
hilangnya rasionalitas, hilangnya jati diri individu, hilangnya tanggung jawab
karena adanya anonimitas, serta adanya kekerasan kolektif yang merupakan lahir
dari apa yang disebutnya sebagai proses “contagion”.
Kata
kunci : Crowds-De Individualism-Irrasional-Contagion-Suggestibility-Anomity-Violent
Referensi :
Anshori, Mohammad, Perilaku Massa,
Anshorfazafauzan.Blogspot.Com
Arend, Hannah, Dalam On Violence , London, 1970
Asfar, Mohammad
“kekerasan Politik Dalam Demokrasi: Analisis Terhadap Kekerasan Politik di
Seputar Pemilu 1997”
Caneti Elias, Crowds and Power,Trans, Carol Stewart, Harmondsworth, 1973
David White House
dalam “ The Origins Of The Police” ,1986
Harisson Mark, Crowds and History-Mass Phenomena In English Towns (1790-1835), Cambiridge
University Press, 1988
Le Bon Theories
Of The Crowd, Diunduh dari Internet , 2015
Macios John, Sociology, 12 th edition, Prentice
Hall, 2008
[1]
Macios john, sociology, 12 th edition, prentice hall, 2008
[2]
Anshori, Mohammad, Perilaku Massa, anshorfazafauzan.blogspot.com
[3] Le
Bon Theories Of The Crowd, Diunduh dari Internet , 2015
[4]
Harisson Mark, Crowds and History-Mass Phenomena In English Towns (1790-1835),
cambiridge university press, 1988
[5]
Caneti Elias, Crowds and Powe, trans, carol stewart, Harmondsworth, 1973
[6]
David White House dalam “ The Origins Of The Police” ,menggambarkan sebagai
berikut “ In England and The United States, The Police were invented within the
space of just a few decades roughly from 1825 to 1855. The new institution was
not a response to an increase in crime, and it really didn’t lead to new
methods for dealing with crime. The most common way for authorities to solve a
crime, before and since the invention of police, has been for someone to tell
them who dit it.
Besides , crime has to do
with the acts of individuals, and the ruling elites who invented the police
were responding to challenges posed by collective action. To put it in a
nutshell : The authorities created the police in response to large, a defiants
crowds, that’s strikes in England, riots in the northern US, and threat of
slave insurrections in the south. So the police are a response to crowds, not
crime…”.gagasan untuk menangani massa mulai muncul ketika terjadi perjuangan
kelas yang lahir dari perseteruan antara si kaya dan si miskin , antara
kelompok dominan dan minoritas sejalan dengan awal-awal akan masuknya era
revolusi industri, dimana pada saat itu polisi belum terbentuk maka penguasa
saat itu menggunakan tentara untuk menangani konflik antara masyarakat miskin
dan masyarakat kaya dan dengan cara menembaki massa atau menangkap pemimpin
dari massa yang melakukan pemberontakan “… there still weren’t cops, but the
richer classes began to resort to more and more violence to suppress the poor
population . sometimes the army was ordered to shoot into rebellious crowds,
and sometimes the constables would arrest the leaders and hang them. So class
struggle was beginning to heat up , but things really began to change when the
industrial revolution took off in England”.
Kerusuhan terbesar pada era
itu terjadi di Inggris tepatnya di kota Manchester dan terjadi 1819. Bala
tentara pada waktu itu dikirim untuk membubarkan unjuk rasa dari massa yang
berasal dari kelompok pekerja yang berjumlah 80.000 orang. Dari bentrokan yang
terjadi antara tentara dengan massa tersebut menimbulkan korban sebanyak
ratusan orang cedera dan 11 (sebelas) orang meninggal dunia, bermaksud
membubarkan massa , tentara inggris justru melakukan tindakan brutal yang
dikenal dengan “waterloo massacre” yang justru memicu unjuk rasa yang lebih
besar.
Akibat dari itu “ The
Ruling Class” membutuhkan institusi baru yang mampu menangani secara baik unjuk
rasa yang dilakukan oleh massa dari kelas pekerja dengan cara cara yang tidak
mematikan yang hanya akan melahirkan martir martir baru dari kelas pekerja.
Tugas ini kemudian dibebankan kepada “the London police” yang didirikan pada
tahun 1829 , 10 tahun setelah pertistiwa water loo. Penanganan terhadap unjuk
rasa merupakan 1 (satu) dari 2 (dua) tugas pokok kepolisian London yang saat
itu mulai diorganisasikan secara baik. Adapun tugas pokok kepolisian London
tahun itu adalah “ firstly is fighting the crime through surveillance and
intimidation against the criminal by doing beat patrolling and secondly
to handle strikes, riots and major demonstration”.
A. KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan makalah ini , Le Bon menyatakan dalam
perspektif “ crowd psycolgist” dan “ self –styled social scientist bahwa
karakter dari “crowds” itu sangat
mengagumkan (awesome), Menakuktkan (terrifying), Brutal (Savage), berdasarkan insting (Instinctual),seperti binatang buas( bestial), tidak dapat diperkirakan (capricious) dan kekerasan (violent).
Selanjutnya dikatakan bahwa “crowds” adalah perwakilan dari evolusi regresi dari peradaban
manusia. Pada tahap akhir pembangunan manusia sebagai akses dari perilaku yang
irasional. Ia juga mengklasifikan crowds pada 2 klasifikan yaitu heterogenous crowds yang cenderung
anonimitas seperti “ street crowds”
dan homogenous crowds yang
orang-orangnya cenderung dapat dikenal dan dipahami seperti perkumpulan agama,
polisi, militer dan kelas-kelas social lainnya.
Selanjutnya dijelaskan bahwa tidak serta merta menyamakan
“mob” dan “crowds”, dalam pemikirannya, bahwa crowds memiliki ciri ciri
seperti mob ( Mob – Like attitude)
yaitu penularan ( infectious), agresive, dan tidak peduli dimana Le Bon
cenderung menyebutnya sebagai “fickle”.
Meskipun pada perkembangannya pandangan Le Bon tentang crowds mendapatkan berbagai
pertentangan, sehingga melahirkan berbagai teori baru yang berkaitan dengan crowds baik secara sosiologi, politik
dan sejarah, pandangan Le Bon ini meskipun bersifat tendensius terhadap
pemaknaan “crowds” secara umum namun
pada konteks tertentu pandangan ini tidaklah usang dan masih relevan menjadi
dasar bagi kajian-kajian ilmiah dan praktis dalam memahami “crowds” baik dalam dimensi sosiologis, politik dan sejarah.
Karena pada kenyataannya “ crowds” sangatlah dinamis dan memiliki banyak pemaknaan
tergantung pada konteks peristiwanya.
“crowds” bisa dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menakutkan karena
baying-bayang kekerasan kolektif yang tidak terkendali dan merusak ada padanya,
tetapi di sisi yang lain “crowds” adalah
sesuatu yang menyenangkan karena kegembiraan dapat dirasakan secara bersama.
Demikian pula
dalam konteks hubungan crowds
dengan politik , bagi kelompok dominasi yang menginginkan stabilitas dan anti
terhadap gangguan , maka “crowds”
dapat dimaknai sebagai ancaman dan kecenderungan teori dan pandangan “Le Bon “
tentang crowds digunakan sebagai
justifikasi dari tindakan coercive yang dilakukan oleh penguasa. Demikian pula
sebaliknya dalam konteks demokrasi, “crowds”
adalah salah satu jelmaan kekuasan politik bersama dari masyarakat untuk
menyalurkan aspirasinya dan melakukan penekanan terhadap penguasa atas
aspirasi-aspirasi yang diharapkan oleh masyarakat luas. Sehingga crowds dalam konteks ini merupakan
upaya kolektif untuk menempatkan kesetaraan antara penguasa dan masyarakat
dalam memperbaiki kehidupan social yang lebih baik.
Dalam konteks kekerasan, meskipun pandangan Le Bon yang
seolah-olah memahami kekerasan sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari crowds, namun crowds pun dapat mentransformasi menjadi suatu bentuk kekerasan
kolektif jika ada factor-faktor pencetusnya (stimulus factors). Faktor
pencetusnya bisa lahir dari dalam diri” crowds”
sendiri maupun dari luar “crowds”.
Kekerasan oleh petugas keamanan yang berlebihan terhadap “crowds” dapat memicu transformasinya “crowds” menjadi agen kekerasan kolektif, sebaliknya tidak menutup
kemungkinan “crowds” itu sendiri
memiliki benih benih kekerasan sebagai bagian dari budaya yang melekat pada “crowds” sehingga budaya kekerasan
tersebut dapat dimunculkan oleh “crowds”
setiap waktu dengan tujuan tujuan dan penyebabnya Ketika itu terjadi maka
kembali kepada teori Le Bon , bahwa kekerasan kolektif yang terjadi pada “crowds” merupakan pencerminan dari
hilangnya rasionalitas, hilangnya jati diri individu, hilangnya tanggung jawab
karena adanya anonimitas, serta adanya kekerasan kolektif yang merupakan lahir
dari apa yang disebutnya sebagai proses “contagion”.
Kata
kunci : Crowds-De Individualism-Irrasional-Contagion-Suggestibility-Anomity-Violent
Referensi :
Anshori, Mohammad, Perilaku Massa,
Anshorfazafauzan.Blogspot.Com
Arend, Hannah, Dalam On Violence , London, 1970
Asfar, Mohammad
“kekerasan Politik Dalam Demokrasi: Analisis Terhadap Kekerasan Politik di
Seputar Pemilu 1997”
Caneti Elias, Crowds and Power,Trans, Carol Stewart, Harmondsworth, 1973
David White House
dalam “ The Origins Of The Police” ,1986
Harisson Mark, Crowds and History-Mass Phenomena In English Towns (1790-1835), Cambiridge
University Press, 1988
Le Bon Theories
Of The Crowd, Diunduh dari Internet , 2015
Macios John, Sociology, 12 th edition, Prentice
Hall, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar